Dieng: Sebuah Undangan Sorgaloka

Awalnya, saya selalu menganggap Dieng sebagai sesuatu yang jauh dan tak tergapai. Tidak lebih dari sebuah misteri.

Namun, suatu hari, kesempatan mengunjungi Dieng datang tak terduga. Seakan-akan sebuah panggilan dari sorgaloka. Semua sudah diatur. Saya tak perlu menyiapkan banyak hal: hanya diri sendiri dan rasa penasaran yang kembali hidup setelah mati suri selama berbulan-bulan.

Semua pertanyaan yang tertinggal tentang Dieng, yang membuat saya masih terhalang untuk berkunjung ke sana, terjawab semudah membalikkan telapak tangan. Susah bagi saya untuk menutupi rasa tidak percaya. Namun, ia terjadi. Kekhawatiran tertutup rasa semangat tentang situs-situs yang ada di kawasan itu. Sisanya berjalan sesuai rencana. Rencana yang jika saya pikir-pikir lagi, sesungguhnya tidak ada.

Tiba di Semarang pukul setengah tujuh pagi, perjalanan dilanjutkan ke tempat travel, tak sampai tiga jam saya sudah di Wonosobo. Kendaraan sudah menunggu, saya melanjutkan perjalanan ke Dieng bahkan sebelum tengah hari.

Perasaan? Campur aduk. Kadang-kadang saya tidak percaya kenapa perjalanan bisa semulus ini. Tidak berarti jalan yang saya lalui benar-benar mulus tanpa satu lubang pun, tapi semua sangat lancar, dan saya terus bertanya-tanya, sembari tidak berhenti berterima kasih dan bersyukur pada Ia yang telah mengundang saya ke Dieng.

Undangan. Panggilan. Saya menganggap perjalanan ke Dieng kemarin sebagai saya memenuhi undangan sorgaloka. Bayangkan saja, bahkan cuaca pun seolah-olah diatur! Di hari kedatangan saya, beberapa kali saya mendapat celotehan bahwa hujan hari itu tidak turun. Padahal, tahu sendiri, daerah Wonosobo-Dieng adalah dataran tinggi, tempat hujan bisa turun di tengah-tengah musim panas.

Saya ke sana di pertengahan Januari, kala musim hujan sedang puncak-puncaknya. Dengan sepeda motor sewaan yang tidak diperlengkapi dengan jas hujan. Memang saya mencari toko yang menjual mantel, tapi sejauh ini ia belum dapat saya temukan. Padahal jalan sudah mulai menanjak, udara perlahan tapi pasti mulai dingin, kabut tipis-tipis mulai turun.

Mungkin, sebagian dari perjalanan saya hari itu adalah tentang keterpasrahan. Pikir saya, jika memang hujan, maka hujanlah. Jika hujan turun, saya tinggal berteduh. Apa susahnya?

Beberapa nama kampung mengingatkan saya pada nama-nama rakai yang pernah saya baca di buku sejarah. Dua nama, Garung dan Watumalang. Ada tokoh bernama Rakai Garung dan Rakai Watuhumalang. Mungkin dua daerah itu berkaitan dengan dua raja Mataram Lama tersebut. Mungkin jua hanya kebetulan (meski terdengar agak dipaksakan kalau dianggap cuma kebetulan).

Pemandangan cepat berubah. Makin lama, jalan semakin menanjak. Tinggi, tinggi, makin tinggi. Sebuah gardu pandang menyebut angka 1.789m dan saya agak kagum, karena saya bisa sampai setinggi ini. Di kemudian hari, saya baru tahu bahwa itulah Gardu Pandang Tieng, salah satu tempat para wisatawan bisa mengabadikan pemandangan matahari terbit yang baik.

Pemandangan perjalanan? Menakjubkan. Menumbuhkan rasa semangat dan membuat saya makin penasaran. Sekali waktu saya curi-curi pandang ke seberang jurang dan berdecak kagum atas pemandangan yang tertoreh di situ. Orang zaman dulu mengatakan bahwa Dieng adalah persemayaman dewa-dewi. Itu bukan tanpa alasan. Meski belum pernah tahu bagaimana sorgaloka sebenarnya, mereka pasti menilai bahwa pemandangan agung ini adalah sebagian dari bagaimana sorgaloka tampak.

Mengetahui bahwa saya sedang berada dalam perjalanan menujunya membuat saya merinding. Lagi-lagi saya hampir tidak percaya dengan diri sendiri: astaga, saya sudah ada begitu dekat dengan Dieng, yang telah saya idam-idamkan sejak sekian tahun silam. Ada di bawah langitnya, diembus anginnya, menghirup udaranya. Betapa anugerah-Nya demikian hebat.

Motor saya melaju pada sebuah lembah, dan di sanalah, gapura Dieng perlahan mulai terdekati. Dalam hati saya bersyukur. Saya memenuhi undangan-Nya. Untuk datang di candi tertinggi. Perjalanan ini mengingatkan saya pada dua bait pujian berumur seribu tahun. Sebagian pujian terindah dalam sastra Nusantara, dari larik-larik terbaik yang pernah terpikir manusia.

sasiwimba haneng ghata mesi banu

ndan asi suci nirmala mesi wulan

iwa mangkana rakwa kiteng kadadin

ring angambeki yoga kiteng sakala .

            Citra bulan tampak pada jambangan yang berisi air

            Karenanya, apa pun yang suci murni akan berisi bulan

            Seperti itulah Kau hadir dalam segala yang ada

            Bagi seorang yang mengabdi yoga Kau hadir dalam keberwujudan.

katemunta mareka si tan katemu

kahidepta mareka si tan kahidep

kawenangta mareka si tan kawenang

Paramarthasiwastunirawarana

            Kau ditemukan kendati tak ditemukan

            Kau terpikirkan kendati tak terpikirkan

            Kau terjangkau kendati tak terjangkau

            Parama Siwa, jadilah tidak berkelir lagi.

pemandangan gunung di dieng-wonosobo
Sebuah pemandangan

Akhirnya, seperti sebuah lakon wayang, kelir saya menuju Dieng terbukalah…

5 thoughts on “Dieng: Sebuah Undangan Sorgaloka

Add yours

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑