Ibu. Ibuku. Dan Karirnya.

Tadi malam saya tiba-tiba terpikir soal ibu saya dan karirnya. Ada cerita Bapak yang dulu sempat saya dengar. Cerita yang tidak pernah dijelaskan kepada kami anak-anaknya, tapi sempat terlontar ketika Bapak cerita dengan orang lain.

Katanya, Ibu dulu hampir mau jadi hakim. Ya, hakim di pengadilan-pengadilan itu.

Ibu memang salah satu lulusan terbaik di fakultas hukum universitasnya. Itu saya tahu. Dari indeks prestasi akademiknya, Ibu merupakan peringkat kedua di angkatannya. Angkatan 1984 kalau saya tidak salah. Menurut saya itu bukan prestasi abal-abal, sebab di tahun itu bisa dikatakan mencapai nilai baik saja sudah susah. Apalagi berprestasi. 

Hanya saja, memang mencari pekerjaan di masa itu sulitnya minta ampun. Ibu saya konon mengikuti seleksi hakim, dan lulus. Bahkan kata Bapak (jika saya tidak salah dengar), Ibu sudah tinggal penempatan. Dapat peringkat pula di seleksi penerimaan hakimnya. 

Akan tetapi, di masa itu penerimaan pegawai belum setransparan sekarang, dan itulah yang membuat Ibu saya urung menjadi hakim.

Oleh seorang oknum, Ibu dimintai uang untuk bisa melanjutkan penerimaan sebagai hakim. Jika saya tak salah Ibu dimintai empat juta rupiah. Di masa itu, empat juta rupiah bukan uang yang sedikit. Apalagi ekonomi keluarga saya saat itu tidak bisa dibilang berkecukupan. Gaji Bapak yang berprofesi sebagai seorang guru SMP tentu saja tidak cukup untuk memenuhinya.

Jadi, sesederhana itu, Ibu tidak bisa melanjutkan asanya menjadi seorang punggawa keadilan.

Tapi Ibu kini tidak pernah membahas itu. Bapak juga tidak pernah cerita lagi. Mungkin karena sekarang Ibu tidak bekerja di bidang hukum, tetapi Ibu sekarang seorang pedagang di pasar. Mungkin juga karena itu sudah jadi masa lalu, jadi buat apa lagi diingat-ingat. Apa Ibu malu? Saya sebagai anaknya sih tidak, wong sekarang saya menulis ini.

Namun, tadi malam saya membayangkan bagaimana seandainya Ibu saya jadi seorang hakim, yang dengan toga hakim berwarna merah-hitamnya Ibu duduk di belakang meja hijau. Terus saya duduk di kursi penonton di belakang, menyaksikan Ibu beraksi sebagai seorang hakim. Saya sampai tertawa sendiri dan menangis sendiri. Saya bangga banget, punya Ibu yang lolos seleksi hakim (meski akhirnya tidak jadi hakim). Saya bahkan sampai ingat bagaimana wajah Ibu dalam balutan toganya itu. 

Ah, mungkin ini halusinasi saya yang lain lagi karena merindukan orang tua dan tidak bisa ke mana-mana lantaran virus corona.

13 thoughts on “Ibu. Ibuku. Dan Karirnya.

Add yours

  1. Apa kabar Gara? Semoga sehat selalu yah…

    Buah memang jatuh nggak jauh dari pohonnya ya
    Hakim dan kini gara di pengadilan pajak ….

    Meski bukan menjadi hakim, semoga ibu tak risau hati dengan pilihan karir yang sekarang ya

    1. Saya lumayan. Masih dengan kondisi yang ‘seperti ini’ tapi sekarang mulai ada hasrat untuk kembali, sedikit demi sedikit. Semoga bisa bertahan.
      Nah, saya tidak di Pengadilan Pajak, Mas, hehe. Saya di Biro Advokasi sekarang. Tapi pekerjaan memang masih menyinggung hal-hal berbau pajak, sebagian kecil.
      Saya yakin beliau tidak risau. Semoga saya bisa memastikan kebahagiaannya. Terima kasih, ya, Mas.

  2. Mirip cerita ibuku , tapi dalam versi yang lebih sederhana. Jadi ibuk kalau lagi senang dan bangga dengan kami anak2 perempuannya suka bilang, “syukurlah kalian sekolah tinggi, ibuk dulu juga pengen jadi sarjana, sekolah hakim jaksa namanya dulu, sayang kakek kalian meninggal dan ibuk terpaksa tidak melanjutkan sekolah tinggi”

    1. Agaknya bagi seorang ibu, kebahagiaan terbesar adalah melihat anak-anaknya berhasil ya, Mbak. Semoga saya juga bisa memberi kebahagiaan pada ibu saya, yang bisa membuatnya mengucap syukur seperti ibunya Mbak.

  3. Ibuku, kalau sesuai kuliahnya jadi akuntan, tapi malah jadi guru sampai akhir hayatnya.
    Ibu yang kuat, pasti anaknya kuat, terlihat dari dirimu.

    Selamat menulis kembali 🙂

    1. Aduh, terima kasih sekali. Semoga saya memang bisa betulan jadi orang yang kuat.
      Terima kasih, semoga saya bisa mewarnai dunia blog kembali dengan tulisan-tulisan saya.

  4. Selamat datang kembali di dunia tulis-menulis ahhahahahha.
    Aku malah kepikiran ibuku, dulu beliau katanya sering ikut rebana. Tapi aklu belum pernah mendengar beliau bersenandung kecuali pas baca alquran

    1. Terima kasih, semoga saya bisa bertahan lagi di dunia tulis-menulis ini, Mas.
      Nah, bagaimana kalau sekali waktu minta ibunya Mas untuk menyanyi? Saya yakin suaranya pasti sangat merdu.

Tinggalkan Balasan ke Avant Garde Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑