Mengeksplor Perasaan

Masih ada yang mengganjal di hati setelah mental breakdown kemarin. Terutama setelah saya kembali ke kantor lagi, dan melihat bagaimana beban pekerjaan didistribusi. Saya merasa mendapat beban kerja yang terlalu berat, dan semua hal akhirnya dipikulkan pada saya. Sementara itu, pegawai yang lain saya lihat santai dan bisa menghandel semua pekerjaannya dengan baik. Apa saya yang salah?

Mungkin ada benarnya teman yang mengatakan bahwa diberi beban pekerjaan itu berarti kita diandalkan. Tapi kenapa saya merasa tidak begitu, ya? Saya malah dengan aneh merasa berat dan takut ketika ada tanda bahwa saya akan diberikan tanggung jawab. Kenapa saya takut ketika diberikan tugas? Kenapa saya tidak bisa mengerjakannya dengan ikhlas seperti orang-orang yang lain?

Sedang ada banyak pertanyaan berkecamuk di dalam kepala saya. Mereka datang silih berganti, tak terjawab karena saya tak tahu jawabannya. Saya merasa aneh, selalu menghindari tanggung jawab. Apa ini karena saya selalu salah dalam mengerjakan sesuatu? Selalu ada masalah dari apa yang saya lakukan, singkatnya yang saya kerjakan itu tidak pernah beres. Apakah itu penyebabnya sehingga saya takut menerima tanggung jawab?

Sekarang saya terduduk di depan komputer dalam kebingungan. Bingung bagaimana akan bersikap jika besok pagi saya ke kantor dan diserahi pekerjaan lagi. Apakah saya akan menolak? Atau haruskah saya mengerjakannya, sambil berharap pada keikhlasan yang semoga saja tumbuh dari dalam hati? 

Mungkin kesalahan ada di saya juga. Saya selalu menganggap diri anak bawang yang belum pantas diberi tanggung jawab. Saya jadi tidak berkembang, terjebak di dalam zona nyaman. Atau ini karena adanya perasaan saya yang takut salah, takut dimarahi, sehingga saya menolak semua bentuk tanggung jawab yang memungkinkan saya untuk lebih dekat dengan marahnya atasan.

Apa pun itu, yang jelas, ada sesuatu yang salah pada diri saya. Sesuatu yang membuat saya enggan bertanggung jawab atas nama diri saya sendiri. Sesuatu yang membuat saya selalu berusaha ‘mengoper’ pekerjaan kepada orang lain, dan tidak mau berusaha menyelesaikannya sampai selesai. Ini bukan tabiat yang baik, dan saya bisa jadi bukan pegawai yang baik.

Saya ini parah, lho. Tadi saya ketakutan sendiri begitu ada pikiran besok saya adalah satu-satunya pegawai yang masuk di tim saya, sampai saya berusaha menolak pekerjaan yang sekiranya dilimpahkan ke saya, mengalihkannya ke orang lain. 

Tapi besok… bagaimana dengan besok, ya. Apa semuanya akan jadi sama seperti hari ini, hectic dan saya banyak bikin kesalahan-kesalahan kecil, atau besok saya bisa berbangga dengan diri sendiri? Saya kepengin bisa bangga dengan diri sendiri, bangga karena saya bisa menyelesaikan sesuatu dengan baik, murni hasil kerja saya sendiri.

Tapi bagaimana saya mau menyelesaikan sesuatu kalau saya selalu takut menerima sesuatu?

Ah, dilema ini masih belum terjelaskan malam ini. Mungkin esok?

Sebagai penutup, saya akan menceritakan beberapa perkataan teman yang cukup menusuk batin saya. Pertama dari seorang teman kantor, katanya, “Mungkin sekarang kamu bisa mengikuti kata hati, kerjakan apa yang ada di depan mata, nanti Tuhan dan alam semesta yang akan memberimu kekuatan, jika kamu percaya.” Dan kedua, dari kotak komentar entri kemarin, seorang teman menulis, “Jika hal itu memang lebih penting bagimu, maka lain kali kerjakan saja pekerjaan itu. Bisa jadi keikhlasan akan muncul karena bisa dilatih dan diperluas sabarnya. Anggap saja mengerjakan itu akan menambah nilai positif dirimu.”

Saya akan menggunakan dua komentar itu sebagai bahan perenungan akan apa yang mungkin terjadi esok hari. Tapi malam ini, saya masih belum mendapat jawaban akan apa yang salah pada diri saya, dan bagaimana saya harus bersikap besok.

Permasalahan hidup memang tidak bisa diselesaikan dalam waktu semalam.

Comments are closed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑