Mewinten #3: Ketika Rencana Berubah dan Asumsi Terbukti Salah

“Ya, siapa tahu?”

Saya masih saja berpikir tentang kata-kata Bapak terakhir kali itu. Saya mencoba berskenario. Mendaftar berbagai kemungkinan yang sekiranya akan terjadi di hari acara. Ada yang paling wajar, yang dalam pikiran saya membuat semua kekhawatiran itu terasa berlebihan. Tapi sebaliknya, ada juga skenario yang sangat tidak mungkin terjadi, akan tetapi terpikirkan juga karena saya menganggap kemungkinannya ada. Mungkin skenario terakhir ini muncul akibat pengaruh ego yang sedang mendidih.

Masih ada lagi yang lainnya dalam kontinum itu. Namun, semuanya sangatlah tidak pantas untuk saya buka di sini.

Apa saya khawatir? Ya. Bentuk kekhawatiran itu sudah saya jelaskan di episode sebelum ini. Termasuk bahwa saya sesungguhnya khawatir akan sesuatu yang lebih mungkin semu. Bekal saya menghadapinya hanya persiapan upacara dan pembicaraan dengan Bapak yang penuh misteri. Siapa tahu? Siapa tahu apa? Siapa tahu apa yang akan terjadi pada saya setelah acara ini, begitu? Ya kok agak lebay, ya? Tapi kalau tidak lebay, apa pasal Bapak sampai bilang seperti itu?

Saya kebingungan.  Sungguh, semua pertanyaan itu berputar di kepala saya. Bak seorang yang berfilsafat: ia bertanya, ia menghasilkan jawaban, jawaban itu dipertanyakan, menghasilkan jawaban, yang dipertanyakan lagi. Demikian seterusnya. Mungkin para filsuf menikmati proses itu. Mungkin juga pada hakikatnya proses itu menarik. Namun, sepertinya tidak bagi saya. Tidak saat itu.

Saya pikir inilah sebabnya Tuhan menjatuhkan hukum bahwa tak ada seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Memanglah benar, semua sudah pasti sesuai dengan hukum itu. Namun, penyingkapannya diatur garis waktu. Ia mengirimkannya pada semua manusia seperti gerak jarum seismograf. Tidak ada yang tahu kapan gempa akan terjadi. Namun, sekalinya terjadi, terasalah dampaknya.

Saya menghela napas. Sudah terlalu jauh untuk tiba-tiba menjadi gila dan mundur. Jika sekiranya memang demikian adanya, agaknya baik, bahwa saya hanya harus mementingkan apa yang sedang terjadi. Soal apa yang akan terjadi dan bagaimana konsekuensi yang akan saya tanggung di masa depan, itu tanggung jawab saya. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Lo que sera, sera. Saya pasrah.

Dengan kepasrahan itulah, di hari-H, saya menyibukkan diri. Tidak lama juga saya berbingung-bingung hari itu karena pagi-pagi sekali kami sudah harus bersiap ke griya Ratu Peranda. Saya menggunakan trik lama dengan mencoba melakukan semua kegiatan secara berurutan. Dengan itu, pikiran saya tak sempat melayang ke hal lain. Sekarang saya melakukan A, habis itu B, setelah itu C, D, dan seterusnya. Singkat kata, saya merobotkan diri.

Sungguhpun demikian, sejatinya persiapan acara “kecil-kecilan” ini cukup banyak. Sampai-sampai saya ragu bercampur kesal apakah acara ini pantas mendapat predikat begitu. Sebut saja konsumsi berupa makanan berat dan jajanan pasar. Teh dan kopi, termasuk termos air panas. Alat-alat makan tak ketinggalan. Tanpa banyak bicara saya membantu Bapak dan Ibu yang menyiapkannya. Kendati demikian, bohong besar jika saya berkata tak ada komentar tercetus dari dalam hati.

Dipikir-pikir, memang beginilah keadaannya ketika acara dilakukan tidak di rumah sendiri. Saya sudah jelaskan bahwa acara ini dilakukan di griya pedanda. Di satu sisi, hal itu sesungguhnya sangat memudahkan. Sarana dan prasarana upacara sudah disiapkan di sana.

Akan tetapi tidak dengan logistik konsumsi. Dengan sendirinya, jamuan bagi tamu undangan harus kami siapkan sendiri. Kesannya memang tidak susah jika undangannya sedikit, karena tidak banyak yang harus disiapkan. Namun, dalam kasus saya, yah begitulah, ada tamu undangan. Dialektika soal ini telah terjelaskan di dalam episode sebelumnya.

Kala itu, saya tak punya pilihan lain, kecuali mencoba membiasakan diri sembari mencoba berpikir bahwa dalam hidup, ada beberapa pola pikir pribadi yang harus saya coba ubah. Salah satunya, mungkin, adalah ini.

***

Kami tiba di tempat acara sekitar pukul sembilan. Malah belum ada tamu untuk acara kami yang datang, kecuali beberapa orang yang mengikuti acara surya sewana. Ada pula beberapa orang yang akan melukat. Awalnya, saya mengira bahwa saya akan diikutkan di upacara melukat ini saja. Toh, sama-sama berupa upacara pembersihan. Tapi tentu saja tidak. Saya sudah tak kuat untuk berargumen soal ini lagi. Tidak ketika saya sudah sejauh ini.

Saya membantu kakak ipar saya membawa beberapa termos yang telah kami isi air panas dari rumah. Sempat ia berkelakar tentang apa yang mungkin akan terjadi setelah saya mewinten. Antara lain, mungkin saja nanti saya punya kekuatan sihir.

Saya langsung kepikiran epos modern soal penyihir laki-laki yang punya bekas luka berbentuk petir di dahinya. “Wingardium Leviosa,” sahut saya sambil melihat bayangan diri pada tanah berpasir.

Tak ada benda yang terbang.

Ketika kami tiba, Pedanda Lanang dan Pedanda Istri sedang wara-wiri di halaman. Mereka tampaknya sedang memastikan kebersihannya. Ketika kami masuk, sesungguhnya Pedanda Lanang tidak melihat kami. Belum pula saya memperkenalkan diri, karena orang tua, bibi, dan kakak saya yang turun duluan telah mulai menyiapkan bahan-bahan.

Saya pun tidak sadar bahwa sang pendeta tinggi masih ada di sana. Sampai ketika ia, sang pendeta tinggi itu, tiba-tiba saja menghampiri dalam perjalanannya menuju pintu gerbang dan tersenyum menyapa. Saya tidak bisa tidak merasa bahwa seakan-akan dia tahu saya adalah orang yang punya beban pikiran paling banyak pagi itu.

Koreksi, seakan-akan saya adalah orang yang membebani pikirannya paling berat kala itu.

Saya yang tak menduga tentu gelagapan. Syukurnya hanya sebentar. Akhirnya saya cuma bisa mengucapkan salam dengan senyuman yang saya pikir pasti tampak setengah meringis. Baiklah, sepertinya di sini ada seseorang yang aroma ragu-ragu dan malu-malunya menguar di udara. Atau mungkin wajah saya terlalu polos sehingga suasana hati sesederhana apa pun pasti tercetak di muka.

Setelah itu, saya harus berulang kali menegaskan pada diri sendiri bahwa bersusah-susah sudah tidak ada faedahnya lagi. Jadi, sudahlah ya! Mari kita nikmati acaranya. Pandang saja dari sisi positif bahwa saya punya satu topik lagi untuk diobrolkan di blog.

Demikianlah, dan sebagaimana bisa saya duga, mulai ada orang-orang lain tiba, di samping keluarga kami. Jro Mangku Dalem tentu jadi yang pertama. Ia dan ayah saya berteman akrab. Sudah saya jelaskan bahwa beliau juga yang menyarankan saya ikut prosesi ini. Bisa saya bilang bahwa beliau juga sangat membantu pelaksanaan acara ini hingga dapat sampai ke titik ini dengan sangat memuaskan.

Tak seberapa lama, keluarga dekat dan para tetangga yang mulai berdatangan. Mereka mulai menyapa, dan tentu saja, bertanya. Untungnya semua sudah saya duga sebelumnya. Paling tidak, sesuai dengan satu skenario. Sudah barang tentu pertanyaan mereka berkisar tentang mengapa saya mewinten. Mengingat saya tak punya stok jawaban lain, saya jelaskan saja yang sebenarnya.

Candi. Candi adalah tempat suci umat Hindu. Menurut Hindu, supaya bisa naik candi maka seseorang harus sudah bersih secara spiritual. Saya suka melihat candi dari dekat. Dan saya Hindu. Jadi saya harus bersih secara spiritual. Salah satu caranya adalah melalui upacara mewinten. Sisanya silakan disambungkan sendiri.

Ajaibnya, penjelasan itu tidak terdengar terlalu buruk. Padahal saya sudah cekikikan sendiri setiap kali mengingat-ingat kata-kata itu. Mungkin saya terlalu paranoid memandang semua hal.  Selalu berpikir tentang hal-hal terburuk. Padahal ketika dijalani, mungkin saja kenyataannya tidak seburuk itu. Orang-orang tidak memicingkan mata dan memandang saya aneh. Saya tak tahu bagaimana pendapat mereka di dalam hati masing-masing. Tapi selama saya tak tahu, kenapa saya harus ambil pusing?

***

Sang pendeta tinggi sedang mempersiapkan diri. Namun, acara belum sepenuhnya akan dimulai. Sebelumnya saya diberi tahu Bapak bahwa ada sedikit perubahan jadwal di sini, berkaitan dengan kondisi kesehatan Pedanda Lanang yang sebenarnya pada saat itu agak kurang baik. Pagi itu beliau sedianya akan melakukan pengecekan kesehatan di sebuah rumah sakit. Namun, karena sudah menyanggupi akan menyelesaikan acara kami, beliau pun akan melaksanakannya juga, setelah kembali dari cek kesehatan.

Saya tak mengucapkan apa-apa selain terima kasih. Namun kalau boleh jujur, saya sebenarnya agak khawatir. Soal waktu dan tamu. Acara tentu saja akan mulai lebih siang. Apakah para tamu tidak punya kesibukan lain di hari Sabtu ini? Maklum, sepanjang sejarah saya menghadiri undangan di Jakarta, jika acara belum mulai sampai waktu yang telah ditentukan, biasanya para tamu undangan akan mundur satu per satu dengan tertib. Tentu amat sangat tidak elok apabila itu yang terjadi kali ini.

Tapi setelah mendengar sendiri dari Peranda Istri bahwa mereka benar-benar menyesal dengan perkembangan ini, malah jadi ganti saya yang tidak enak karena berpikir seperti itu. Tambahan lagi, para tamu ternyata tidak ada yang beranjak. Seakan-akan mereka sudah paham dengan perkembangan ini.

Mereka baru akan berangkat ke rumah sakit kira-kira lima belas menit lagi. Tentu saja kami masih punya banyak waktu untuk dihabiskan. Sementara itu, Jro Mangku Dalem mengajak saya dan Bapak untuk menyiapkan beberapa pernak-pernik upacara. Beliau meminta kepada seseorang yang ada di sana untuk menyiapkan perlengkapan guna membuat benang tridatu.

Saya yang awalnya hanya melongok jadi tertarik untuk memerhatikan lebih lekat. Bahan-bahannya sederhana. Hanya benang wol berwarna merah, putih, dan hitam. Ketiganya dipotong menurut panjang tertentu, kemudian dijalin. Di ujung-ujungnya kemudian diikatkan uang bolong yang telah disiapkan. Cepat gerakan sang pemangku menjalin benang-benang itu; dalam sekejap saja jalinannya sudah lumayan panjang.

Bapak memanggil saya untuk mendekat. Mungkin ia sadar akan saya yang memerhatikan dari tadi. Disuruhnya saya untuk duduk lebih tegak dan tidak bertopang dagu. Kemudian Jro Mangku Dalem mengukur-ukur panjang jalinan benang tadi melingkari leher dan pundak saya. Setelah ia merasanya cukup, barulah ia mengikatkan satu uang bolong lagi pada jalinan itu.

Benang tridatu sudah cukup banyak dibahas dalam simbolisme Hindu di Bali. Ia terdiri dari tiga utas benang yang melambangkan Trimurti, perwujudan Tuhan sebagai Brahma (dengan warna merah), Wisnu (dengan warna hitam), dan Siwa/Iswara (dengan warna putihnya). Umumnya penganut Hindu Bali mengenakan gelang benang tridatu ini di pergelangan tangan kanan sebagai penolak bala. Itu arti sederhana saja. Arti sesungguhnya jauh lebih dalam.

Dalam keterkaitannya dengan apa yang akan saya lakukan, benang tridatu adalah perlambang kekuatan Tuhan sebagai pengikat. Sebagaimana yang saya jelaskan tadi, nantinya benang ini akan dipakai melingkari leher dan pundak. Secara simbolis, ia adalah perlambang kekuatan Tuhan untuk mengikat sifat-sifat buruk yang masih ada dalam diri si pemakai, dengan harapan setelah mewinten orang tersebut dapat menjaga dirinya dari hawa nafsu, supaya tidak kebablasan.

Namun, perlulah saya peringatkan bahwa ini bukan berarti setelah mewinten lalu seseorang akan serta-merta menjadi kudus dan suci sampai tak mungkin terkotori perbuatan bejat. Itu hanya sebatas harapan. Pada hakikatnya, upacara ini, dan semua upacara penyucian lain, adalah harapan agar manusia menjadi lebih baik dan lebih mawas diri dalam mengarungi hidupnya.

Ketika kami baru saja selesai dengan benang tridatu itu, Pedanda Lanang keluar dari ruangan sebelah. Ia duduk bersila di dekat kami. Bapak dan Jro Mangku Dalem langsung mendekat. Sepertinya ada beberapa hal yang ingin beliau bicarakan.

Ternyata yang menjadi pembuka adalah sebuah permintaan maaf atas penyebab kemungkinan tertundanya acara ini lantaran beliau harus ke rumah sakit. Bapak dan Jro Mangku menyatakan sangat tidak berkeberatan, dan dalam hati saya menambahkan: tentu saja, seyogianya keberatan memang tidak ada. Saya tidak mengatakannya karena saya hanya pengamat yang sedang berada di luar lingkaran percakapan mereka.

Tiba-tiba sang pendeta tinggi bertanya, dalam bahasa Bali berlogat Lombok, “Jadi yang mana yang mau diwinten?”

“Ini, anak saya,” kata Bapak. Ia langsung menengok dan menyuruh saya mendekat. Saya memasang senyum termanis yang saya bisa pada saat itu, dengan suasana hati yang seperti itu. Saya berharap semoga saja muka saya masih tidak tampak meringis.

Beliau membalas senyuman saya. “Oh yang ini,” katanya.

“Dan bibinya juga rencananya mau ikut mewinten juga,” kata Bapak dalam bahasa Bali.

“Itu, yang di sebelah sana.” Saya menambahkan dalam bahasa Indonesia seraya menunjuk bibi yang sedang membantu ibu dan kakak.

Bagi orang-orang yang mungkin menganggap saya tidak sopan karena berbicara dengan pedanda tidak menggunakan bahasa halus, saya mohon maaf. Bagaimana mungkin saya percaya diri untuk memakai bahasa Bali di depan seorang pendeta tinggi ketika bahasa Bali yang saya ketahui sama sekali bukan bahasa Bali halus?

“Nanti ini jadinya mewintennya mau bagaimana?” Si pendeta tinggi bertanya lagi, kali ini menghadap saya.

Eh? Nah lo? Itu betulan pertanyaannya ditujukan kepada saya? Untuk beberapa saat saya kehilangan kemampuan menjawab. Sesaat saya sempat berpikir, bukankah pertanyaan seperti ini yang sudah saya pikirkan dari berbulan-bulan menjelang acara ini?

Saya menahan napas sesaat. Apakah Tuhan sudah memberi kesempatan bagi saya untuk menentukan apa yang akan terjadi? Maksudnya, ketika saya sudah menyerahkan apa yang akan terjadi pada-Nya, rupanya Tuhan tahu bahwa itu semua bisa saya atur sendiri, jadi diserahkan-Nyalah pengambilan keputusan itu kembali pada saya.

“Yang biasa-biasa saja, kemarin kan katanya begitu…”

Jawaban yang terlalu sumir itulah yang keluar dari bibir saya, dalam suara yang nyaris tidak terdengar, seolah-olah saya sedang berbisik pada Bapak, alih-alih menjawab pertanyaan sang pendeta tinggi. Tapi kalau saya boleh berkilah, sejujurnya setengah tidak sadarlah saya ketika menjawab itu. Seakan-akan jawaban itu terceplos begitu saja.

Bolehkah dikata bahwa jawaban itu adalah suara hati saya yang paling dalam?

Untungnya Bapak sudah memberi jawaban diplomatis sebelum kata-kata saya sempat dimengerti semua orang, “Bagaimana baiknya menurut Ratu saja,” katanya. Jro Mangku mengamini.

Sang pendeta tinggi mengangguk-angguk. Ia memejamkan mata barang sebentar, kemudian melirik saya sekilas. Saya ya tidak bisa melakukan apa-apa selain menunduk-nunduk saja, sambil mencoba menganggap semua ini sesuatu yang enteng saja adanya. Saya sudah mulai fasih mencoba untuk berpikir bahwa semua yang ada dalam pikiran saya terlalu berlebihan. Ya elah barang ginian doang, kasarnya. Untuk apa juga saya harus bersusah-susah.

“Oh, begitu,” kata sang pedanda kemudian. “Kalau begitu, sepertinya pawintenan pemangku baik juga adanya,” tambahnya.

Sontak saya membeku. Hah? Saya tidak salah dengar? Pewintenan… apa tadi yang beliau katakan?

Pemangku?


Catatan:

[1] Ratu peranda adalah sebutan hormat untuk pendeta tinggi secara umum.

[2] Sebutan rumah bagi pendeta tinggi dalam agama Hindu bukan “rumah” atau “jumah”, tapi “griya”.

[3] Surya sewana adalah acara pemujaan yang dilakukan para pendeta tinggi terhadap matahari terbit setiap pagi

[4] Melukat adalah upacara penyucian paling sederhana yang dilakukan dengan cara mandi air suci.

[5] Jika menjadi pendeta tinggi, pasangan juga menjalani upacara yang sama, sehingga dipanggil dengan sebutan serupa. Lanang untuk laki-laki, Istri untuk perempuan.

[6] Jro Mangku Dalem, disebut demikian karena beliau menjalani tugas utama di Pura Dalem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑