Rikuh.

Rikuh rasanya melihat orang lain bekerja tapi saya tidak melakukan apa-apa. Tapi kesal juga rasanya, melihat diri bekerja sendiri sedangkan orang lain bersantai dan mengobrol dengan asyiknya.

Saya kemarin pulang dengan badan lemas dan mental tersedot habis. Dilema yang terjadi dalam diri saya belum selesai, kondisi mental saya kembali kacau. Ditambah lagi saya lupa meminum obat dari psikiater. Saya tidak tahu apakah alpa minum obat satu hari juga berpengaruh pada kondisi mental saya secepat itu. Atau obat yang saya minum selama ini tidak ada pengaruhnya? Entahlah. Yang jelas kemarin saya pulang dengan keadaan rikuh dan tidak enak sekali. Rasanya tersiksa.

Masalahnya sebenarnya masih sama, kalau saya coba eksplor lagi. Saya yang tak mau menerima pekerjaan tapi tak enak melihat rekan kerja menyelesaikan pekerjaan itu. Saya merasa tak mampu, di satu sisi, enggan menghabiskan waktu dengan pekerjaan yang saya tak paham apa. Tapi di sisi lain saya tak enak sudah mengalihkan beban pekerjaan ini ke rekan kerja saya. Hal itu ditambah kondisi mental saya yang memang dari awal sudah tidak stabil membuat saya meledak dan akhirnya mengalami mental breakdown, jika saya boleh meminjam istilah seorang teman yang berkomentar di blog saya.

Sekarang saya masih bingung tentang apa yang harus saya lakukan. Haruskah saya mengambil alih pekerjaan ini? Sepertinya tidak, karena saya tidak mampu. Dan juga enggan. Tapi sebaiknya saya berkontribusi sedikit dengan mengerjakan apa yang ada di depan mata. Sebagai contoh membuat undangan rapat, yang sampai saat ini siapa-siapa saja yang mau diundang juga belum jelas. Atau membuat serta mengadministrasikan nota-nota dinas yang sebenarnya sudah saya lakukan beberapa hari lalu. Mungkin saya bisa melakukan itu… meski timbul masalah baru, yakni saya merasa belum cukup berkontribusi.

Di malam-malam pekat saya berdoa pada Tuhan agar saya diberikan kekuatan dan pertolongan menghadapi masalah ini. Tapi saya belum merasa melihat pertolongan—kalaupun sudah ada, saya merasa belum merasakannya. 

Kebetulan yang terjadi justru membuat saya ketakutan—nama orang terakhir yang berkomentar di blog saya sama dengan nama rekan kerja yang saya lempari pekerjaan ini. Apakah itu kebetulan? Atau memang rekan kerja saya itu yang mengomentari postingan saya? Saya tidak tahu dan tidak bisa bertanya, namun yang jelas, itu membuat saya ketakutan. Saya berpikir untuk menghapus saja postingan saya di blog itu, meskipun sampai saat ini hal itu belum saya lakukan. Tapi bagaimana seandainya yang menulis komentar itu benar rekan kerja saya itu?

Mungkin kalian yang membaca ini akan langsung mencibir, kenapa ditulis di blog, kalau begitu, sehingga semua orang bisa membaca? Saya pikir saya akan mematikan kolom komentar saja setelah ini agar tulisan saya tidak bisa dikomentari, meski sebenarnya saya juga ingin membaca pikiran dari teman-teman agar saya tidak merasa berpikir sendiri. Ah, saya memang bodoh, banyak sekali maunya, membuat dilema yang lain lagi.

Itulah perkembangan yang terjadi sepanjang hari kemarin. Semestinya saya menulisnya di hari kemarin juga, namun saya terlalu lemas dan tidak bisa memaksa diri untuk membuka komputer dan mulai menuliskannya. Sampai hari ini pun, rasa rikuh itu masih ada. Semoga saya bisa menemukan jalan keluar dari permasalahan ini. Semoga saya bisa melakukan tindakan-tindakan yang tepat agar tidak lagi terjebak dalam mental breakdown yang lain.

Akankah saya beroleh bahagia?

Comments are closed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑