Saya egois.

Perasaan tidak enak kembali menyeruak di hati. Semua karena seorang teman (pantaskah saya sebut teman?) yang tiba-tiba saja mengontak setelah sekian lama, meminta bantuan saya untuk mengerjakan ujiannya. 

Jadi ia hanya seorang kenalan di kampus, kakak kelas beberapa angkatan di atas saya. Tidak pernah ada kontak kami sebelum ini selain hanya bertukar nomor ponsel. Kemarin, ia mengontak saya. Memelas. Mengatakan dirinya tinggal kurang 1 SKS lagi menuju yudisium, dan meminta bantuan saya untuk membantunya mengerjakan ujian akhir semester untuk mata kuliah yang 1 SKS itu. Posisinya saat itu, saya sedang ada di kantor, dan sudah jam 1 siang di tanggal 25 Agustus. Saya bingung bagaimana membantunya karena saya juga sedang ada pekerjaan, ada rapat yang harus saya ikuti. Ia mengirimkan soal ujiannya beserta blanko yang harus ia isi sebagai jawaban ujian (mata kuliahnya pembuatan akta notaris). Saya menyarankan padanya untuk mencetak dulu blanko-blanko kosong itu, agar mudah diisi dengan tulisan tangan (ujiannya memang tulis tangan). Ia menjawab akan segera mencetaknya. Saya kemudian mengikuti rapat dari kantor, yang baru selesai menjelang pukul setengah lima sore. Ia mengontak saya lagi, berharap bisa bertemu.

Saya mengiyakan, tapi saya bilang hanya bisa bertemu pada akhir pekan. Sabtu siang atau hari Minggu tak masalah. Nanti ujiannya bisa kita selesaikan bersama.

Tapi ia mengatakan bahwa ujiannya harus dikumpulkan besok (hari ini, 26 Agustus) pukul satu siang. 

Saya jadi kebingungan. Bagaimana membantunya, sedangkan ini sudah pukul enam sore dan posisinya saya juga baru saja pulang kerja, belum beres-beres dan bersih-bersih, belum sembahyang juga belum makan malam. Saya jadi tidak enak tidak bisa membantunya, tapi saya juga kalau boleh membela diri perlu waktu untuk diri saya sendiri. Apalagi jawaban ujiannya bukan tipe yang dapat dikirim secara softfile, karena jawabannya adalah pengisian blanko secara tulis tangan. Bagaimana saya bisa membantunya, kalau begitu?

Akhirnya, pesan terakhirnya tidak saya balas. Sampai sekitar jam 9.30 malam ketika ia mengontak lagi, bertanya apakah saya sudah pulang kantor. Saya jawab sudah. Kemudian ia bercerita bahwa ia bingung bagaimana menjawab ujian ini. Saya sarankan padanya untuk membuka materi kuliahnya tentang ini, karena contoh isian blanko-blanko akta itu sudah ada di sana semua. Ia menjawab bahan kuliahnya sudah tidak ada.

Saya jadi bingung malam itu. Sangat bingung. Saya merasa bersalah tidak membalas pesannya atau mungkin dapat dianggap saya tidak beriktikad baik untuk membantunya. Tapi setengah diri saya juga membalas bahwa saya perlu waktu untuk diri saya sendiri. Saya kebingungan. Akhirnya saya memutuskan bercerita pada seorang teman yang saya harap bisa memberi jalan keluar akan permasalahan ini.

Tapi sayang, saya malah dibilangnya egois karena tidak meluangkan waktu untuk membantu orang lain.

Saya langsung down dan kepikiran. Ada rasa tersinggung dan kesal, karena ternyata respons yang saya dapat justru seperti itu. Apa saya memang egois, ya? Apa saya harus mengorbankan waktu untuk diri saya sendiri dan menjadi orang baik yang membantu sesama padahal diri sendiri juga punya kebutuhan yang harus dipenuhi? Saya takut menjadi orang jahat dalam permasalahan ini. Apakah saya memang jahat karena mengutamakan diri saya sendiri? Tidak menolong orang lain yang mata kuliahnya hanya kurang 1 SKS lagi, apakah itu egois? 

Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya pada diri sendiri apa saya memang egois. Setengah diri saya mengatakan bahwa mungkin saya memang egois. Semestinya saya meluangkan waktu setelah kerja untuk bertemu dan membantunya mengerjakan soal ujian pengisian blanko itu, ketimbang hanya istirahat sepulang kerja. Pasti akan ada jalan kalau saya memang niat membantu.

Tapi setengah diri saya yang lain mengatakan kalau saya sudah melakukan sesuatu yang benar, karena mengutamakan diri saya sendiri sebelum membantu orang lain. Sungguh, saya berada dalam dilema yang sangat besar akibat masalah ini. 

Tapi ketika saya menulis ini, nasi sudah jadi bubur. Sudah lewat dari waktu pengumpulan, dan saya merasa bersalah. Mungkin saya jadi penyebab ia tidak lulus 1 SKS lagi dan harus menunda waktu yudisiumnya. Ya, saya penyebabnya. Saya yang jahat, egois, dan salah.

Comments are closed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑