Saya Runtuh.

Saya runtuh, bingung harus melakukan apa. Baru saja saya terkena serangan panik dan saya gemetar minta ampun. Saya bahkan harus memaksa diri untuk menyalakan komputer dan menulis ini, karena saya merasa harus menuangkan emosi yang ada pada sesuatu. Sesuatu yang bisa sedikit menenangkan, meski saya masih jauh dari kata tenang. Sesuatu yang konon bisa menjadi pelampiasan emosi yang baik, meski kelihatannya stok emosi saya sangat-sangat berlebih sehingga saya bingung apakah satu tulisan cukup untuk membuat saya menenang.

Semua berawal dari saya yang benci diri sendiri menjadi seorang people pleaser. Saya yang mengiyakan semua permintaan pekerjaan yang dilimpahkan pada diri saya sehingga semua pekerjaan akhirnya saya handel. Suatu hari, saya diminta lagi oleh atasan untuk mengerjakan pekerjaan yang saya lihat pada saat itu bukan merupakan porsi saya. Saya ketakutan setengah mati ketika melihat kemungkinan demi kemungkinan tanggung jawab itu jatuh pada saya. Ketakutan saya terbukti, tanggung jawab itu dilimpahkan kepada saya lagi. 

Saya runtuh, untuk pertama kalinya. Akibat rasa takut.

Beberapa teman yang melihat keluhan saya memandang sepele dan mengatakan pada saya bahwa ketika saya diberi tanggung jawab yang lebih dari biasanya dalam urusan pekerjaan, itu tandanya saya anak kesayangan, dan saya diandalkan. Dan saya harus sabar. Tapi saya merasa tidak demikian. Saya tidak merasa diandalkan, juga tidak merasa disayang. Saya malah merasa dibebani sebuah tanggung jawab baru, tanggung jawab berat yang belum tentu mampu saya pikul. Saya merasa terbeban. Kenapa harus saya lagi yang diberikan tanggung jawab ini? Dan apesnya lagi, saya merasa tanggung jawab itu bukan punya saya, melainkan milik pegawai lain yang semestinya melakukan apa pekerjaan yang diminta itu.

Tapi saat itu, saya bisa apa? Saya cuma bisa diam. Dan dengan berat hati, sangat berat sebetulnya, saya menerima pekerjaan yang dilimpahkan pada saya itu. Saya mengutuk diri sendiri ketika saya menjadi seorang people pleaser. Saya takut ketika saya mengerjakan itu, semua tanggung jawab jadi berpindah ke saya dan saya tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang saya suka karena harus selalu berkutat dengan pekerjaan. Saya merasa sendirian.

Ini sendiri sebenarnya sudah salah, karena saya mengawalinya dengan sebuah ketidakikhlasan.

Dan itulah awalnya, saya mengerjakan tugas itu dengan berat hati dan, sederhananya, dengan tidak ikhlas. Ada beberapa gerutuan yang saya keluarkan dalam hati ketika mulai menggarap pekerjaan itu. Saya tidak ikhlas. Sama sekali tidak ikhlas. Dan ketidakikhlasan itu membuat saya mengerjakannya setengah hati—bahkan di bawah supervisi langsung atasan saya! Saya tidak maksimal mengerjakan pekerjaan itu—saya tahu—saya juga merasa tidak tertarik membahas hal pekerjaan tersebut lebih lanjut. Bahkan ketika saya dibantu oleh seorang senior untuk menyelesaikan beberapa bagian, saya juga masih merasa berat mengerjakannya.

Sampai setelah makan siang tadi, saya melihat kesempatan untuk, yah, mengalihkan pekerjaan ini secara keseluruhan kepada senior yang membantu saya tadi. Dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya pun mengalihkan pekerjaan ini sehingga tadi sang senior mengerjakan separuh sisa pekerjaan bersama atasan-atasan saya (mereka mengerjakannya bersama). Sementara itu, saya menyingkir, mencoba menonton sebuah dokumenter tentang komunitas petani di lereng Merbabu.

Di sinilah keanehan mulai terjadi, yang mulai membuat saya tidak fokus.

Ada rasa bersalah yang besar mulai tumbuh dalam diri saya, membuat saya gemetar. Sebuah rasa bersalah dan kecewa karena saya mengalihkan pekerjaan ini pada senior saya itu. Ada rasa bersalah dan sesal yang hebat karena saya sudah tidak ikhlas. Melihat senior saya itu mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh makin menghebatkan rasa bersalah yang menggerogoti hati ini. Rasa itu dari siang ke sore tadi bertumbuh dan bertumbuh, dan membesar, sampai pada puncaknya saya gemetar hebat di sekujur tubuh disertai rasa sakit di beberapa titik di perut pada senja tadi. Saya mengalami serangan panik. Napas saya sudah gemetar, satu-satu, saya gelisah hebat dan bingung harus melakukan apa. Saya hanya bisa meminta tolong pada seorang teman dengan chatting ngalor-ngidul sementara tangan saya gemetaran hebat. Saya hanya bisa berjongkok di kamar, memeluk lutut sendirian, dengan napas yang kian memburu.

Saya runtuh, untuk kedua kalinya. Saya menyalahkan diri saya sendiri, lagi.

Rasa takut akan tanggung jawab bertransformasi menjadi rasa bersalah yang hebat. Saya langsung merasa diri saya tidak berguna, bahwa saya bukan siapa-siapa. Saya merasa kosong karena sepertinya semua orang punya sesuatu yang mereka lakukan sementara saya tidak melakukan apa-apa, hanya bisa melihat diskusi yang tadi saya hindari dengan perasaan aneh di dalam diri. Saya merasa gagal karena tidak bisa memberikan versi terbaik diri saya pada apa yang harus saya selesaikan. Saya merasa kosong dan hampa, merasa saya tidak akan jadi siapa-siapa karena tidak mau mengerjakan apa-apa.

Saya sudah gagal. 

Rasanya aneh, aneh sekali. Rasanya bingung. Apakah saya harus menjadi people pleaser supaya diri ini tenang? Atau apakah saya harus terus menghindari tanggung jawab? Kenapa ketika saya sudah melakukan apa yang saya mau, saya masih merasa bersalah? Saya bagaikan ada di persimpangan tempat jalan apa pun yang akan saya ambil adalah salah. Saya merasa tidak mungkin ada dalam kebahagiaan lagi seperti dulu, karena apa pun yang saya lakukan kini adalah salah.

Bahkan setelah saya runtuh pun, saya masih bingung.

8 thoughts on “Saya Runtuh.

  1. Gara,
    Mengerjakannya tidak ikhlas, tapi tidak mengerjakannya menimbulkan rasa tidak bersalah.
    Hanya dirimu yang bisa menakar mana yang lebih tinggi nilainya & lebih penting bagi dirimu. Namun kelihatannya yang terakhir itu lebih memberi dampak ya. Karena diserang rasa bersalah itu benar-benar bisa menghabiskan energi dan bisa bikin mental breakdown. Bisa jadi, ini bisa jadi lho yaaa… rasa bersalah itu timbul krn sejak kecil dirimu diajarkan bhw bekerja itu “wajib hukumnya” dalam hidup sebagai orang yang bertanggungjawab. Naah, ada konflik nih dalam diri karena tanpa sadar dirimu tidak mau dinilai “tidak bertanggungjawab”.
    Kelihatannya image dianggap tidak bertanggungjawab itu yang menimbulkan rasa bersalah sampai sedemikian hebat, Gar…
    Jika hal itu memang lebih penting bagimu, maka lain kali kerjakan saja pekerjaan itu. Bisa jadi keikhlasan akan muncul karena bisa dilatih dan diperluas sabarnya. Anggap saja mengerjakan itu akan menambah nilai positif dirimu.
    Semua itu kan keputusan-keputusan diri sendiri akan pilihan. Ini atau itu… dan hanya dirimu yang berhak memutuskan karena dirimu yang paling tahu. Apapun keputusan yang telah diambil, jangan disesali.
    Bisa jadi tidak sesuai, maka jadikan hal itu sebagai pembelajaran untuk di lain waktu.
    Ih saya sok tau aja kali Gar, hihihi… maafkan ya kalau tak berkenan…
    Semoga selalu sehat, damai dan bahagia ya Gar..
    Salam.

    1. Terima kasih sudah meninggalkan komentar panjang dalam tulisan ini, Mbak. Sebagaimana tulisan ini berakhir, saya sendiri masih bingung akan apa yang harus saya lakukan. Apakah saya harus menyelesaikan semua, kemudian keberatan karena terlalu banyak tanggung jawab, atau menyelesaikan apa yang wajib saya kerjakan, kemudian merasa bersalah karena itu. Seakan-akan saya masih ada dalam dilema yang sangat sulit. Tapi saran Mbak untuk mengerjakannya saja karena keikhlasan bisa muncul dan sabar dapat diperluas, akan saya renungkan. Saya juga masih harus belajar untuk tidak menyesali keputusan yang sudah saya ambil…

  2. Semoga cepat membaik ya Gara

    Sayapun sebenarnya sedang rapuh dan runtuh …

    tak ada teman ….

    bukan corona yang membunuh kita (saya), tetapi kesepian dan depresi …

    1. Saya juga mengalami hal yang serupa 🙁
      Kita harus bertahan, meski klise, meski tak mungkin, meski sulit…

  3. Take a deep breath Gara….
    Apabila semua pilihan membuat tidak nyaman, pilihlah pilihan yang membuatmu sedikit tidak stres. Mungkin pertama itu dulu.
    Menyesal atau merasa ada yang salah menurutku ga papa apabila ada rasa itu, seengganya Gara tahu apa yang membuat menyesal dan merasa bersalah, sehingga besok bisa mencoba jadi sedikit lebih baik.
    Aku teringat beberapa perbincangan dengan seorang kawan “manusia itu 80% belajar, 20% sempurna”, jadi ga perlu jadi sempurna ataupun terlihat sempurna di mata orang lain.
    Tetap semangat ya Gar

    1. Sebagaimana akhir tulisan ini, sebenarnya saya masih bingung apa yang harus saya lakukan. Semua hal kesannya salah dan membawa beban yang membikin stresnya masing-masing. Dan sejujurnya saya juga belum pasti betul apa yang membuat saya menyesal dan merasa bersalah. Rasa bersalah karena mengoper pekerjaan itu seolah-olah hanya rasa di permukaan. Saya masih punya masalah mendalam dan mendasar yang harus saya eksplorasi dan saya selesaikan.

      Saya masih bingung, dan cemas.

  4. Pertimbangkan untuk segera berkonsultasi pada psikolog agar tidak semakin berlarut-larut. Semoga Tuhan menjaga Anda.

Comments are closed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑