Tentang Penyesalan

Sebenarnya saya takut, takut sekali membahas soal penyesalan. Kenapa? Karena orang yang menyesal berarti orang yang tidak menerima posisinya saat ini. Orang yang menyesal adalah ia yang selalu mendamba seandainya. Karena ia demikian, berarti ia mendamba sesuatu yang tidak ada. Ia tidak melihat apa yang ada di depannya saat ini, sehingga dalam satu vonis, ia adalah orang yang tidak bersyukur.

Berarti, saya adalah orang yang tidak bersyukur. Karena saya menyesal.

Saya selalu berpikir, seandainya dalam persimpangan hidup (yang sudah beberapa kali saya alami, bahkan sebenarnya mungkin setiap hari, namun untuk kepentingan tulisan ini kita anggap saja persimpangan hidup yang krusial) saya mengambil pilihan yang berbeda, mengeklik tombol yang berbeda, menjawab hal yang berbeda, mungkin saya tidak akan terpuruk dalam kondisi mental seperti saat ini…

Saya menyalahkan diri sendiri karena sudah menyesal. Seperti yang sudah saya bilang di atas, menyesal berarti tidak bersyukur. Saya tidak perlu bacotan orang untuk mengingatkan betapa tidak bersyukurnya saya, karena saya sadar sendiri kalau dengan menyesal, saya tidak bersyukur. Hanya saja, jika rasa penyesalan ini tidak saya keluarkan, ia mencekik saya. Membuat tumpukan penyesalan bertambah dari dada sampai ke leher. Membuat saya tidak bisa bernapas.

Saya sedih, dan menyalahkan diri sendiri, karena saya menyesal. Karena saya tidak siap dengan pilihan hidup yang saya ambil. Orang bilang pilihan hidup memang tidak ada yang 100% menyenangkan. Setiap jalan yang kita pilih, sudah ada satu set plus minus yang mengikuti. Itu benar. Akan tetapi, dalam penyesalan saya, saya berpikir bahwa jika saja saya memilih hidup yang berbeda, saya rasanya jauh lebih siap dengan minus (hal-hal buruk) di pilihan hidup yang tidak saya ambil itu ketimbang minus di pilihan hidup yang ini. Do you get my point?

Seperti kata pepatah, yang memang benar, kita menyesali pilihan hidup yang tidak kita ambil.

Namun, agaknya saya mesti realistis. Berada dalam penyesalan tidak membawa apa-apa bagi saya, selain kesedihan dan rasa sepi yang sudah menjadi teman akrab saya dari hari ke hari. Padahal, semestinya saya bangkit. Hanya saja bangkit menjadi sangat susah dalam kondisi penyesalan konstan seperti saat ini. Apa yang harus saya lakukan?

Saya kemarin berkonsultasi dengan seorang teman tentang penyesalan yang saya rasakan sejauh ini. Kata dia, memang benar, setiap pilihan hidup pasti ada plus dan minusnya, tapi Tuhan pasti punya rencana yang kita belum tahu. Dengan berada di posisi saat ini, mungkin Tuhan punya rencana terbaik-Nya untuk saya; sesuatu yang saya belum tahu apa. Dan, kata dia, mungkin ini terdengar klise, tapi kita harus kembali kepada Sang Pemilik Dunia dan berdoa yang terbaik untuk diri kita. Yakin, bahwa Ia tidak diam saja kalau melihat saya nelangsa.

Saya tak bisa berucap apa-apa ketika teman saya itu mengutarakan hal tersebut pada saya. Karena jika saya membantahnya, sama saja saya melanggar ketetapan Tuhan. Mungkin ia ada benarnya. Mungkin Tuhan memang punya rencana untuk saya di tengah rasa menyesal ini. Mungkin ada sesuatu di ujung sana yang tersimpan untuk saya, sesuatu yang membahagiakan.

Mungkin ia ada. Atau mungkin juga ia tidak ada.

3 thoughts on “Tentang Penyesalan

Add yours

  1. Setiap pilihan ada konsekuensi, tetapi jika ada konsekuensi yang tak terlihat karena kita tak tahu ada “di depan” alangkah baiknya kita berdoa untuk mengetuk pintu langit, mana tau konsekuensi yg buruk bisa berubah jadi baik, atau setidak2nya berubah jadi “mending”

    Tetap semangat ya Gara, menyesal itu sangat manusiawi kok
    Bukan sekali dua kali saya menyesal, bahkan untuk keputusan yang saya pikir sepele. Misal nggak bawa STNK, dan hari itu saya apes ditilang hehe

    1. Mengetuk pintu langit, ya. Sepertinya itu harus saya coba. Terima kasih, Mas.
      Hihi… mungkin ada rencana Tuhan di balik keputusan tidak membawa STNK itu: untuk mendidik menjadi pengendara yang lebih taat aturan.

  2. Sama-sama Gara πŸ™‚ takdir seperti lahir, jodoh, mati tak bisa dirubah
    tetapi nasib baik dan nasib buruk bisa diupayakan di agama saya
    mungkin kurang lebih begitu juga di agama2 lainnya πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑