Heboh Leak di Kampung Saya

Kemarin di kampung saya heboh leak.

Beberapa malam yang lalu, ibu saya mendengar sumpah serapah dari jalan depan rumah. Dari jendela kamar tamu, ia melihat tetangga depan rumah (sebut saja Pak K) berteriak sambil berkacak pinggang, mengacungkan jari sambil bersumpah serapah ke ujung jalan. Ajakan perkelahian, caci maki, teriakan Pak K menggema sampai ke kamar tamu rumah saya, meskipun Pak K sendiri tak jelas terlihat lantaran terhalang pagar.

Khawatir benar-benar ada yang akan baku hantam karena tantangan dan makian itu, Ibu cepat-cepat menemui Bapak yang ada di belakang rumah. Meskipun sesungguhnya Ibu sudah merasa ada sesuatu yang aneh dengan teriakan Pak K itu, ia mengabaikannya.

Ditemuilah Bapak yang sedang menonton berita malam di TV. Mungkin karena ia ada di belakang, Bapak tidak mendengar teriakan huru-hara yang sedang siaran langsung di gang depan rumah kami.

“Pak, cepat ke luar, si K teriak-teriak itu, takut saya nanti ada kelahian, nanti side juga yang repot sebagai kepala lingkungan,” kata Ibu.

Bergegas Bapak ke luar gerbang. Tapi tidak ada siapa-siapa di situ. Pak K tampaknya sudah kembali ke rumahnya, pintu gerbang rumah depan kami sudah tertutup. Namun, sejurus sebelum Bapak kembali, lewatlah T-san, istri dari Pak K (T-san adalah orang Jepang).

“T-san, K berkelahi dengan siapa?” tanya Bapak.

Dengan santai T-san menjawab, “Dengan jin!”

Bapak sampai bengong. Akan tetapi, belum sempat Bapak bertanya lebih lanjut, Pak W, kakak ipar Pak K, datang berlari dari ujung gang, menghampiri mereka, mukanya panik. “Ayo T, ke dalam, melukat dulu, melukat,” katanya.

“Ada apa W?” tanya Bapak.

“Begini Bli,” jawab Pak W, “menantu saya tadi teriak-teriak, ketakutan melihat leak di depan pintu,” katanya. Mereka berdua kemudian beranjak masuk. Bapak mengikuti. Beberapa saat kemudian, beberapa tetangga yang penasaran keluar dan bertanya-tanya karena ingin tahu.

leak bali
Leak Bali. Sumber: Boombastis.com

Detil dari orang-orang yang datang belum saya eksplorasi lebih lanjut, karena saya masih heran dengan deskripsi Bapak malam itu:

“Tapi memang, saat Bapak masuk ke pekarangan rumahnya itu, Bapak langsung merinding. Rasanya panas. Memang pekarangan itu seperti punya energi yang tidak bagus.”

Padahal bapak saya seumur-umur bukan orang yang peka dengan urusan spiritual, tapi sekalinya itu, Bapak bisa bilang kalau energi di pekarangan itu jelek.

Jahat mungkin kata yang lebih tepat?

Harus Telanjang!?

“Heh, kamu tahu, mantunya Pak W kemarin melihat leak!”

Ibu tidak perlu berkangen-kangen dengan saya saat saya baru mendarat di rumah untuk liburan Nyepi. Belum ada sepuluh menit saya di rumah dan saya sudah disuguhi berita sensasional itu.

Tapi tak apalah, saya menyukainya juga. “Seriuus,” kata saya langsung. “Tahun 2019 begini?”

Dengan bersemangat Ibu menceritakan kronologisnya. Isinya kurang lebih sudah saya sarikan pada bagian pertama tulisan ini.

“Sebenarnya Ibu sudah aneh melihat Si K itu teriak-teriak tapi tidak ada yang nyahuti. Eh ternyata bener, dia berkelahi sama leak. Itu dah makanya, katanya T-san itu: suaminya berkelahi sama jin!”

“Nah kalau sudah seperti itu, terus bagaimana?” Saya mendapati nada suara saya terdengar sedikit skeptis. Memang saya bersemangat, bagaimanapun ini bukan cerita yang sering saya dengar di tahun 2019. Namun, saya pikir saya perlu sedikit berhati-hati dalam menyikapi persoalan ini, sebelum buru-buru menghakimi bahwa ini memang persoalan klenik mistis.

Ibu melanjutkan. “Sudah begitu, besoknya bapaknya si A (Pak W) itu melalung di rumahnya, nantangin itu leak supaya pergi! Memang katanya harus melalung supaya leak itu mau pergi, karena di situ pengapesannya!”

Eh ya… melalung!? “Hah? Melalung? Serius? Yang bener?”

Ibu menjawab seolah-olah telanjang bukan di ruang pribadi merupakan hal normal selanjutnya yang bisa terjadi di muka bumi ini. “Iya! Seperti Pak M itu kan, waktu kemarin cucunya diganggu leak, telanjang juga dia.”

“Telanjang!? Telanjang seperti… telanjang bulat!? Ndak pakai apa-apa!?”

“Iya!” jawab Ibu bersemangat. “Itu sudah, dia telanjang, sudah begitu sampai di depan pintunya dimarah2 itu leak (ya leaknya nggak kelihatanlah). Begitu katanya disuruh sama dukunnya. Baru cucunya bisa tenang.”

Saya terus terang kaget. Mengingat, sesungguhnya, Pak M ini tidak bisa saya kategorikan sebagai kaum yang tidak berpendidikan tinggi. Garis bawahi, bukan tidak berpendidikan, tapi tidak berpendidikan tinggi. Tidak hanya beliau, akan tetapi istri dan anak-anaknya juga lulusan universitas. Dengan keadaan logika seperti itu, beliau telanjang bulat di halaman rumahnya, tanpa penolakan dan halangan dari dalam keluarga, bahkan sampai diketahui tetangga yang cukup jauh (misalnya ibu saya ini)? Wow.

Dan lagi, saya tahu bagaimana kondisi halaman rumah Pak M. Saya tidak bisa tidak memikirkan bagaimana jika dengan kondisi gerbang yang tidak tertutup itu, ada orang yang kebetulan lewat, tidak paham duduk perkara, kemudian memergoki Pak M telanjang bulat sedang marah-marah bersumpah serapah dengan bahasa Bali pasar pada suatu makhluk yang wujudnya saja tak kasat di mata?

Masih untung kalau orang yang kebetulan lewat itu masih menganggapnya waras…

Tapi mari kembali ke kasus Pak W, menantunya, dan Pak K. “Jadi kemarin ada yang betulan telanjang di situ?” tanya saya, masih keheranan.

“Iya, itu si Pak W telanjang, ngajak berkelahi si leak!” jawab Ibu.

“Terus diapain leaknya? Muncul, nggak?”

“Ya ndak ada, lah!” Ibu menyahut dengan nada seolah-olah pertanyaan saya itu retoris. “Cuma marah-marah begitu saja dah, dia! Nantangin leaknya, kalau berani hayo sini, lawan sudah saya, tapi tidak ada yang terjadi. Ditunggingin jit leaknya, tuing!” seru Ibu sambil setengah memperagakan gerakan itu.

Saya cuma bisa meringis sambil menahan tawa. Ini sedikit lebih gila dari yang bisa saya perkirakan.

Tuduhan? Tuduhan!

Beberapa hari berlalu setelah cerita itu, dan saya sebenarnya sudah hampir lupa akannya karena belum ada perkembangan menarik. Namun, malam itu, Bu W (istri Pak W) tiba-tiba muncul di rumah, mencari ibu saya untuk bercerita.

Saya mafhum apa yang akan terjadi ketika dua orang ibu-ibu sudah berkumpul. Saya biarkan saja. Setelah Bu W tak kelihatan lagi batang hidungnya, baru saya mulai beraksi. “Itu tadi Bu W ke sini ada apa, Bu?”

“Ya itu, menceritakan kejadian menantunya kemarin.”

Nah lho, jawaban yang saya harapkan. Terus terang saya penasaran juga. “Jadi gimana?”

Cerita ibu saya, kejadian kemarin (tatkala iparnya bersumpah serapah memaki leak yang tentu saja tidak tampak) itu sesungguhnya adalah kejadian ketiga di rumah mereka. Dua kejadian sebelumnya terjadi beberapa hari berselang. Kejadiannya sama persis: si menantu ketakutan gara-gara melihat leak.

“Tunggu, tunggu dulu,” kata saya. “Sebenarnya apa yang dilihat menantunya Pak W ini, sampai ketakutan begitu?”

“Ya leak! Leak!” jawab ibu saya. Entah bagaimana jalannya percakapan antara ibu saya dan Bu W tadi.

“Iya, leaknya berbentuk apa?”

“Ya bentuknya begitu! Ada muka di pintunya, muka orang perempuan pakai kerudung di pintunya itu, rambutnya megambahan, muncul di pintu rumahnya Bu W itu, kemudian dilihatlah sama menantunya!”

Saya kenal “kain kerudung” yang dimaksud. Itu bukan kain kerudung sebagaimana yang dikenal orang awam, melainkan secarik kain dengan rerajahan yang disampirkan tanpa diikat di kepala orang yang, yah, saya akui, sedang belajar ilmu hitam Bali. Kasarnya, belajar menjadi leak.

Tapi saya belum bisa membayangkan bagaimana bisa muka itu ada di pintu. “Ya sebentar dulu Bu, jelaskan dulu… itu muka bisa ada di pintu bagaimana ceritanya? Pintunya kan pintu papan kayu begitu…”

“Ya pintunya dibuka sama leak itu! Cilukbaa… begitu! Astaga ini merinding bulu kuduknya Ibu dibuatnya! Ya Tuhan!”

Ilustrasi pintu kayu. Sumber: tausan.com

Saya mencoba tidak tampak takut tapi berani sumpah saya juga ikut merinding. Apakah ini berarti saya terlalu tersugesti dengan cerita Ibu, atau cara Ibu menyampaikan cerita itu begitu meyakinkan, entahlah, saya juga tidak tahu, yang jelas saya cukup ketakutan dibuatnya.

“Terus dia kenal ndak sama muka yang muncul itu?”

Ibu saya seperti menjawab tanpa berpikir. “Iya, kenallah! Itu mukanya Bu A! Bu A!”

Saya langsung kaget. “Bu A yang di ujung jalan itu?”

“Iya!”

“Bu A yang merokok itu?”

Untuk kedua kalinya Ibu lagi-lagi mengiyakan saya.

“Yang kurus-kurus itu?”

Ketiga kalinya Ibu mengiyakan.

Saya melongo. “W-wow.”

Saya kenal siapa orang yang Ibu maksud. Ia adalah tetangga Pak K yang tinggal di jalan besar, berhadapan dengan mulut gang rumah-rumah kami. Tentu saja saya tidak menduga kalau ia mungkin belajar menjadi leak, dan sudah melancarkan aksinya dengan berani mengerjai tetangganya sendiri.

“Tapi tahu dari mana kalau leaknya itu Bu A itu?”

“Heh, kamu sebut namanya jangan keras-keras! Nanti dia dengar.”

Saya langsung merendahkan suara. “O-oke, oke. Nah sekarang bagaimana ceritanya sampai memang pasti bahwa Bu A ini pelakunya? Kan bisa saja kalau leaknya menyerupai Bu A dan kemudian muncul di rumah mereka…”

“Heh, dia sudah nanya sama dua dukun, satu istrinya Pak MM dan si KB yang dari timur itu, yang rumahnya di samping banjar yang kemarin kamu tanyain itu,” jawab Ibu.

“Ho? Dia ngiring, toh?”

“Iya mungkin ya, tapi Bu MM ini memang ngiring sih dia. Kemarin pas kejadian ditelepon dia sama Bu W, setelah itu dia menerawang dari rumahnya.”

“Terus, terus, bagaimana?”

Ibu menghentikan kegiatan menyetrikanya. “Nah, yang kelihatan ya si Bu A ini!”

“Widih,” respons saya semangat.

“Nah, katanya, ‘Bu W, ini saya sebelumnya tidak tahu ya, siapa sebenarnya yang mengenai kamu. Tapi apa orangnya begini-begini?’’Iya’, jawabnya Bu W. ‘Begini-begini? Orangnya kurus, ya? Merokok, ya?’ begitu katanya. Diiyakan semua sama Bu W. Padahal kan belum pernah ketemu sebelumnya mereka. Kenal saja nggak.”

Saya terdiam lagi, kemudian terkekeh sebentar. Ini sedikit tidak dapat dijelaskan akal sehat. Tapi sepertinya sudah banyak kejadian ketika ada orang yang bisa menerawang, menjelaskan sesuatu yang sebenarnya belum pernah ditemui oleh sang dukun, akan tetapi dikenali oleh si penanya.

Percaya tidak percaya, sih.

“Tapi sepertinya agak susah kalau memang kita mau menuduh dia. Ya iyalah, buktinya mana ada?” tanya saya.

“Iyalah, mana mungkin?” tanya Ibu. “Kalau mau didatangi juga, masa mentah-mentah mau kita tuduh dia, ‘Hei Bu, Ibu kemarin jadi leak mau nyantet cucu saya, ya?’ Kan bunuh diri namanya?”

“Dan nggak ada juga yang akan ngaku, bahkan kalau itu mungkin ada benarnya,” sahut saya. Mendadak ada yang melintas di kepala saya. “Tapi ya, apa sih salahnya Bu W, sampai ada yang sebegitu bencinya sampai mau nakut-nakutin dengan jadi leak, atau sampai ngirim santet ke rumahnya?”

“Heh, leaknya iri itu!” tukas Ibu, merujuk pada orang yang dianggapnya adalah dalang dari semua ini. “Pas kejadian kemarin itu kan Bu W sempat kesurupan!”

“Hah? Kesurupan bagaimana?”

“Iya, kesurupan dia, ceritanya lehernya serasa ditarik pas dia datang ke menantunya itu, setelah itu dia tidak sadar,” jawab Ibu. “Pas kesurupan itu, dia ngomong, ‘Ih saya iri sekali sama keluarga kamu, iri sekali saya, saya tidak suka sama keluarga kamu, saya iri iri iri’, begitu katanya.”

“Tapi kan tidak mesti juga kalau yang iri ini benar-benar si Bu A ini, kan…,” jawab saya, lagi-lagi mencoba memastikan.

“Iya, memang. Tapi tadi Bu W cerita sendiri, pernah suatu hari dia mesambah-sambah di halaman rumahnya yang di depan rumah Bu A itu, kemudian begini Bu A itu ngomong dari rumahnya, ‘Oh iya Bu W… ikat sudah cucunya… jaga baik-baik jangan sampai lepas… ikat sudah cucunya, jaga baik-baik…’”

Saya menelan ludah, ketakutan. Sampai tidak sadar saya, Bapak sudah bergabung bersama kami. Tampaknya beliau baru pulang dari rapat di banjar.

“Kejadian yang kemarin itu?” tanya Bapak.

“Iya, tadi Bu W datang ke sini, itu sudah dia banyak cerita masalah kemarin menantunya ketakutan itu,” katanya.

“Siapa yang kelihatan?”

“Bu A!”

Di sana saya baru sadar, ini informasi baru bagi Bapak, karena beliau bertanya dengan nada setengah tidak percaya, “Bu A? Lho…”

“Iya!” sahut Ibu semangat. “Pantes pas kemarin itu suaminya T-san marah-marahnya menghadap ke ujung jalan. Sebenarnya saya sudah heran, ini si K marah-marah sama siapa, kok dia hadap ke ujung jalan itu, eh ternyata karena Bu A ini sudah yang kelihatan, si Bu W sudah dia tanya sama KB, sudah dia tanya sama istrinya MM, sama juga Bu A ini yang kelihatan mau ngenain menantu sama cucunya ini…”

“Lho tapi kemarin pas kejadian itu datang juga kok dia Bu A ini ke rumahnya Bu W…”

“Hah?” seru saya keras-keras.

“Ada di sana dia?” Ibu pun tidak kalah kaget!

“Iya, datang dia ke sana, banyak omong seperti biasa, kan si Bu A ini paling sok tahu kalau di mana-mana kan,” jawab Bapak. “Tapi Bli nggak merasa ada yang aneh dengan Bu A ini malam itu, atau bagaimana… orang-orang di sana juga tidak merasa aneh dengan kehadiran Bu A ini di situ, seakan-akan sudah biasa, lagipula kan dari dulu juga Bu A ini biasa ke rumah itu…”

Saya cuma bisa membelalakkan mata lebar-lebar. “Hah??”


Catatan Kaki

  1. side = kamu
  2. melukat = menyucikan diri dari pengaruh jahat dengan air suci
  3. melalung = telanjang bulat
  4. megambahan = tergerai (untuk rambut wanita)
  5. rerajahan = aksara-aksara yang memiliki kekuatan magis
  6. ngiring = belajar ilmu kebatinan, ilmu perdukunan
  7. mesambah-sambah = ritual melemparkan nasi basah dicampur bawang dan jahe untuk memberi makan makhluk-makhluk rendahan tak kasat mata (bhuta kala)
  8. Bli = kakak (untuk laki-laki)
  9. Banjar = balai besar tempat warga berkumpul

9 thoughts on “Heboh Leak di Kampung Saya

Add yours

    1. Leak itu orang yang berubah wujud menjadi setengah setan karena ia belajar ilmu hitam. Maka ya, leak bisa jadi buruk karena amalan ilmunya biasanya kurang baik, seperti menebar teluh untuk orang-orang. Ya, soal wujud, leak memang bisa jadi semenyeramkan patung-patung di Bali itu.

  1. wah, pandangan saya salah setelah membaca postingan gara ini… dulu saya pikir leak itu semacam jin atau setan, rupanya masih sebangsa manusia tp menuntut ilmu kepada setan…

    1. Sebenarnya kalau dibilang menuntut ilmu kepada setan juga agak kurang tepat, Bang. Ilmu yang dipelajari juga merupakan ilmu kerohanian, tapi alirannya itu aliran hitam. Dalam Hindu memang ada dua pembedaan itu: ilmu agama yang “putih” dan ilmu “hitam”, biasanya ini adalah ilmu-ilmu Tantri yang dewi utamanya adalah Dewi Durga, hehe.

  2. hm, rupanya agak complicated juga yah neranginnya… jadi itu ilmu putih tp cenderung item atau abu2 gitu yah…. bisa gak kita melihat seseorang mengamalkan ilmu leak secara fisik? atau cuma orang2 yg punya indera keenam saja

    1. Kalau lagi siang hari biasanya nggak bisa, Bang. Kan manusia biasa juga, sama seperti kita. Kalau malam tuh, baru. Hehe.

  3. Membaca postingan ini dan saat adzan maghrib makin merinding bulu kuduk. Membayangkan percakapan antara Gara, Ibu dan Bapaknya, pasti seru hehehe. Ternyata, Leak itu nyata bagi yang “memahaminya” ya.

    1. Ya, mengingat masyarakat kami masih kental sekali dengan unsur-unsur seperti itu, jadi tidak heran…

Tinggalkan Balasan ke avant garde Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑