Museum Kailasa Dieng: Aula Berisi Arca-Arca

Mereka yang pernah berkunjung ke Dieng pastilah tahu bahwa Kompleks Candi Arjuna memiliki dua pintu gerbang, dan Museum Kailasa berada di salah satunya.

Sesungguhnya saya sudah lihat satu pintu gerbang menuju kompleks candi itu. Gayanya seperti pintu masuk menuju candi-candi yang tidak begitu diutilisasi sebagai objek wisata. Di tipe pintu masuk seperti ini, huruf-huruf penyusun nama candi terbuat dari aluminium mengilap. Namun, saya tidak masuk. Saya sudah berniat mengunjungi museum ini terlebih dahulu. Jadi, saya meneruskan perjalanan, belok kiri di pertigaan samping lahan luas yang nantinya saya kenal sebagai Gangsiran Aswatama.

Pintu masuk pertama tadi nantinya akan saya kenal juga sebagai Pintu Pendopo Suharto-Whitlam.

Tampak depan Museum Kailasa

Tidak begitu susah menemukan Museum Kailasa. Selain posisinya yang ada di bagian tanah yang lebih tinggi dari jalan, letaknya ternyata tepat di depan tempat parkir Kompleks Candi Arjuna. Tambahan lagi, jauh di atas sana terdapat huruf-huruf besar (betapa tempat wisata kekinian harus identik dengan huruf-huruf besar!) bertuliskan “Dieng-Banjarnegara”, dengan logo PT Geodipa besar di samping kirinya. Mereka yang ingin mendekati deretan huruf tersebut untuk berfoto mutlak harus melewati museum ini.

Tapi bagi saya pribadi, deretan huruf itu punya dua makna tersendiri. Pertama, pembaca yang jeli mungkin langsung keheranan membaca bahwa saya langsung mengenali lambang PT Geodipa (sebuah BUMN patungan Pertamina-PLN yang bergerak di bidang pengelolaan panas bumi). Ya, saya cukup sering melihat logo perusahaan ini di Jakarta, sehingga di mana pun saya melihatnya, saya pasti langsung kenal. Bukan, bukan karena saya bekerja di sana atau punya hubungan afiliasi apa pun. Hanya saja, kantor saya cukup punya sejarah pekerjaan dengan perusahaan ini, sampai sekarang.

Pantas saja saya sering membaca “PLTP Dieng-Patuha”. Rupanya di Dieng yang ini-ini juga.

Dan makna yang kedua… saya harus jujur mengetahui ini, akan tetapi saya baru tahu bahwa kawasan wisata Dieng itu ada di Kabupaten Banjarnegara. Bukan Wonosobo seperti dugaan saya sebelumnya.

Saya pikir cukup banyak wisatawan punya kesalahpahaman serupa. Kami sama-sama menduga Dieng ada di Wonosobo karena Dieng lebih dekat dicapai dari Wonosobo ketimbang dari Banjarnegara. Padahal, secara administratif, kawasan dataran tinggi ini ada di Banjarnegara. Seperti dapat diduga, lokasinya sangat dekat dengan batas timur kabupaten.

Motor saya parkir di depan pedagang yang hari itu sepi pembeli. Ada pengunjung, akan tetapi tidak ramai mengingat ini bukan musim liburan, bukan pula hari libur. Dengan mengabaikan sekumpulan anak muda yang ribut ketika menuruni tangga ke kompleks candi, saya mengambil arah sebaliknya.

Jika diamati, ada empat bangunan di kompleks museum sini. Musala dan kamar mandi di sisi timur, sebuah rumah jaga, bangunan induk museum yang tampak memiliki bagian berdinding bundar, dan satu lagi bangunan seperti aula tunggal berkorden kuning, mirip bangunan-bangunan sekolah tahun 80-an.

Pandangan saya tambatkan pada beberapa yoni yang ada di depan rumah jaga. Rata-rata ceratnya sudah rusak sehingga tampak somplak. Di kirinya ada bangku bagi para pengunjung atau mungkin para penjaga untuk duduk-duduk. Seorang petugas jaga ada di dalam rumah jaga itu, menulis sesuatu.

Untuk ukuran museum, sesungguhnya museum ini cukup murah hati. Selain mushala dan kamar mandi yang cukup bersih di bangunan timur, pada bangku-bangku di depan rumah jaga saya bisa melihat stop kontak. Bagus betul. Zaman sekarang, stop kontak kadang sama pentingnya dengan toilet: tempat yang cepat-cepat harus didatangi kala terdesak. Yang satu untuk buang air, yang satunya untuk mengisi ulang baterai ponsel.

Seorang penjaga menghampiri saya yang kini sudah di antara bangunan induk dan aula berkorden kuning. Ia bertanya apakah saya mau ke museum. “Kalau belum tutup,” kata saya. Maklum, ini sudah di atas jam 12 siang, dan sejauh mata memandang tidak ada pengunjung lain.

Dengan ramah si bapak penjaga membukakan pintu aula. Awalnya saya agak heran juga, kenapa yang dibuka malah aula, bukan museum utama. Tapi ternyata… aula ini penuh dengan arca!

Kemuncak atap candi

Saya jadi bersemangat. Inilah kekayaan Dieng. Sedikit yang masih tersisa, dari relung-relung yang kini sudah kosong.

Wisnu dan saktinya

Secara umum arca di gedung aula ini bisa dibagi menjadi dua kelompok. Arca-arca yang dikumpulkan di tengah, di bawah plafon kayu dan empat saka guru, dan mereka yang menepi di dekat tembok, sehingga pengunjung dapat mengamati semua arca dengan gerakan memutar. Di seberang pintu ada papan informasi koleksi. Saya bergerak ke kiri, melihat-lihat isi museum dengan berjalan searah jarum jam. Tak terdengar lagi suara si penjaga museum.

Koleksi yang menepi ke dinding menurut saya kebanyakan peninggalan-peninggalan sampingan. Dalam artian, sebagian besar mereka bukanlah arca-arca utama yang jadi objek pemujaan. Ada fragmen atap candi berupa kemuncak yang mirip dengan fragmen serupa pada situs tersembunyi di kompleks Candi Gedong Songo. Ada pula yoni dan beberapa lingga, menunjukkan bahwa di kawasan ini dominan pemujaan terhadap Siwa. Sebagai tambahan, ada pula arca Nandi yang merupakan wahana/kendaraan Dewa Siwa. Di sebelahnya ada arca Mahakala, salah satu arca penjaga pintu pada candi-candi Siwa (penjaga pintu satu lagi adalah Nandiswara, lembu Nandi dalam wujud manusia).

Lembu Nandi

Namun, meskipun kawasan ini agaknya menitikberatkan pemujaan Siwa, bukan berarti di sini tidak ada arca dewa-dewi lain. Meskipun tidak banyak, ada satu arca Wisnu yang digambarkan bersama saktinya (Dewi Sri/Laksmi). Sayang bagian kepala arca tersebut sudah hancur.

Arca dewi dengan pemujanya

Menurut papan informasi yang ada di seberang pintu, pemujaan Siwa di Dieng memiliki keunikan dari segi pengarcaannya. Ada arca Siwa yang hanya ditemukan di Dieng, yakni Siwa dengan tiga wajah. Namanya Siwa Trisirah, secara harfiah berarti Siwa dengan tiga kepala (sirah berarti kepala). Selain itu, ada pula arca Siwa yang digambarkan ‘menunggangi’ wahananya (Nandi), disebut Nandisawahanamurti.

Nandisawahanamurti

Menurut saya, sebenarnya disebut “menunggangi” juga kurang tepat, karena asosiasi orang dengan ‘menunggang’ adalah seperti menunggang kuda. Padahal, pose arca Nandi dan Siwa lebih seperti piggyback di posisi duduk. Agak mirip dengan arca Garuda Wisnu Kencana yang besar lagi terkenal itu. Saya lebih cenderung memaknai arca itu sebagai perwujudan Siwa yang berwahana Nandi digambarkan dalam satu arca. Sepanjang pengetahuan saya, deskripsi ini juga sejalan dengan makna harfiah arca tersebut.

Arca dewa (?) dengan teratai

Beberapa arca tersisa di kelompok ini. Ada arca-arca dewa yang tidak begitu saya kenal. Sebuah arca dewa digambarkan lengkap dengan teratai di kiri kanannya. Ia muncul dari akarnya. Saya pernah ingat membaca bahwa penggambaran teratai dapat menunjukkan dari zaman mana suatu arca berasal. Namun saya tidak ingat. Perjalanan ke Dieng bisa dibilang perjalanan pertama setelah berbulan-bulan.

Ada pula beberapa kala di ruangan itu. Kala, sebagaimana diketahui, adalah hiasan yang umum berada di pintu masuk candi, sebagai penolak bala dan makhluk jahat karena mukanya yang seram, dan matanya memelototi pengunjung. Kala yang berukuran lebih besar sangat khas Jawa Tengah: ia tidak memiliki rahang bawah, matanya melotot ke bawah.

Kala khas Jawa Tengah

Namun, kala yang satu lagi membuat saya keheranan. Ia punya rahang bawah, lengkap dengan penggambaran tangan, matanya melotot ke depan. Lebih mirip dengan gambaran orang Bali akan bhoma yang memiliki fungsi serupa hari ini.

Mungkin ia sadar saya heran melihatnya. Tatapannya seakan-akan berubah; dua mata itu mengejek karena saya tidak cukup membaca.

Lihat yang tertawa mengejek ini.

Dasar.

Jika arca-arca dan benda-benda batu yang ada di pinggir boleh kita sebut sebagai artefak sampingan, maka patung-patung yang diletakkan di pusat adalah inti dari koleksi di ruangan ini. Mereka adalah keluarga Siwa, terdiri dari patung Siwa sendiri, bersama dengan Durga, Agastya, dan Ganesha.

Dua arca Durga

Di tengah, besar sekali, ada arca Siwa dengan kepala yang sudah rompal sehingga kita tidak bisa lagi melihat wajahnya. Tampak ia membawa camara atau pengusir lalat di tangan kiri belakang. Sementara itu, mengelilingi arca Siwa adalah keluarganya, dengan susunan seperti di candi-candi. Ganesha ada di belakang, sementara itu Durga dan Agastya masing-masing ada di kiri dan kanannya. Kecuali arca Ganesha, seluruh arca dewa dan sang rsi tidak lagi berkepala.

Arca Siwa

Seingat saya, Dieng adalah satu dari sedikit lokasi yang meninggalkan kepada masa kini peninggalan Siwa dalam bentuk arca personal. Kebanyakan candi yang kini disebut-sebut beraliran Hindu Siwa mengarcakan sang dewa sebagai lingga yang dipasangkan dengan yoni sebagai lambang kesuburan. Arca Siwa yang lain ada di Candi Prambanan, dan tentunya di banyak museum, tapi rata-rata mereka punya hubungan dengan Dieng.

Seseorang dapat dengan mudah mengenali Ganesha sang penolak bala dari kepala gajahnya yang lengkap berbelalai, perut buncit, dan posisi duduk dengan telapak kaki bertemu seperti seorang bayi. Sang ibu dalam keadaan murka, Durga, digambarkan dengan enam atau delapan tangan, satu tangannya menarik rambut siluman kerdil sementara lima atau tujuh tangannya yang lain masing-masing memegang senjata para dewa. Penggambarannya berdiri di atas kerbau dan menarik rambut siluman membuatnya dijuluki penakluk siluman kerbau, kerennya, Durga Mahisasuramardhini.

Kumpulan arca Ganesha

Akhirnya, Agastya adalah penggambaran maharsi sebagai penyebar agama Hindu di Nusantara yang saking dihormatinya, telah disejajarkan dengan Siwa itu sendiri. Di masa-masa senjakala Hindu di Majapahit, kehadiran tokoh begawan yang didewakan ini mendapat nama baru: Bhatara Guru. Penggambarannya sendiri berupa sesosok pria tua berjanggut dengan perut buncit, dan tangan kiri memegang kendi berisi air.

10 thoughts on “Museum Kailasa Dieng: Aula Berisi Arca-Arca

Add yours

  1. ada satu hal yang membuat saya hanyut dalam tulisan gara sejak 3 blog sebelumnya, kelihaian dalam menggambarkan detail. selain sejarah saya juga belajar tentang simbol. dan gara menafsirkan simbol itu secara ah, apa namanya, saya kehilangan kata wkwkwk

    dieng masuk ke dua kabupaten, banjarnegara dan wonosobo. jaman now semua tempat dan kota dibuat tulisan besar-besar. di jaman sekarang, orang tak lagi ‘membaca’ tapi ‘menonton’ 🙂

    1. Terima kasih ya, Mas. Saya nggak tahu mau bilang apa lagi untuk apresiasi ini, tapi saya sangat berterima kasih.

      Iya, ya. Harus diakui tulisan besar itu cukup menarik.bagi pengunjung…

  2. Waaaah, welcome back Mas Gara di dunia blog. Akhirnya, kesampaian ke Dieng ya terutama ke candi Arjuna. Saya pas ke Dieng belum sempat ke Museumnya, dan melalui postingan ini, saya berasa lagi di museum dan dijelasin secara detail. Sukak! Selama ini kalau ke Candi Arjuna cuma di area candi saja.

    1. Terima kasih banyak, Kak. Iya, museumnya memang sangat menarik, kayaknya Kak Titis harus balik lagi ke kompleks Dieng dan datang ke museumnya. Ada keasyikan tersendiri bercerita dengan semua batu itu!

  3. Saya beberapa kali ke Dieng, tapi kok luput dnegan berbagai peninggalan ini ya hahahahaha. Mungkin tujuan awal sudah beda, hanya ingin melihat lansekap. Jadi benar-beanr tidak tahu tentang koleksi ini.

    1. Lansekap di Dieng juga bagus sekali, tiada duanya. Saya rasa dibutuhkan satu kunjungan khusus untuk menikmati lansekapnya saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑