Tuk Bima Lukar: Hulu Sungai Besar nan Bersahaja

Pada sebuah gapura, daerah Dieng mulai terbuka. Di atas sana, deretan huruf besar menjadi penanda.

Tuk Bima Lukar, saya membaca. Dibangun dengan ukuran jumbo-jumbo sebagai latar orang untuk berfoto. Lingkungan sekitar jalan masuk ke daerah Dieng itu kelihatan sekali baru dibenahi. Paving blok merah tampak baru lagi segar. Pohon di taman juga belum berdaun. Ia baru diresmikan. Tampak sangat beda dengan citra mata air keramat yang saya simpulkan ketika secara tanpa sengaja menemukannya di situs peta dunia maya.

Pemandangan di taman Tuk Bima Lukar
Tuk Bima Lukar

Lahan berpaving yang menjadi teras penghubung bisa berfungsi sebagai lahan parkir tambahan. Konturnya yang agak miring membuat motor harus diparkir dengan hati-hati. Saya menyarankan pengendara motor memarkir di lahan semen bahu jalan yang diperluas. Mungkin bagian tadi dikhususkan untuk kendaraan roda empat.

Dari sana saya naik, mendekati deretan huruf besar “Tuk Bima Lukar” tanpa spasi. Di atas sana ada dua gazebo bundar. Entah baru dibangun, entah pula sudah lama, kondisinya seperti ditinggalkan. Kamar mandi yang ada di pojok terkunci. Jalan tembus menghubungkan bagian atas bukit sini dengan sebuah sekolah yang ada di sebelah belakang.

Taman pancuran Tuk Bima Lukar, hulu sungai serayu
Taman Pancuran Tuk Bima Lukar

Dari sini, taman di bawah bisa tampak. Suara air sudah terdengar, asalnya dari sebuah pojokan tersembunyi dengan posisi yang terlindung turun. Setelah menapaki beberapa anak tangga, atau menuruni bagian yang landai, kita bisa sampai di taman bagian bawah. Sebuah taman panjang baru tempat orang bisa bersantai sambil mengambil foto-foto diri dan menikmati suara air mengalir dari pancuran di sudut.

Itulah dua pancuran inti dari tempat ini, yang menjadi asal muasal dari nama Tuk Bima Lukar.

Tuk berarti mata air. Bima adalah adik Yudhistira, putra kedua Dewi Kunti. Lukar dalam bahasa Jawa Kuno berarti terbuka, terurai, atau terlepas. Dengan demikian, Tuk Bima Lukar berarti mata air tempat Bima melepas sesuatu. Dalam hal ini adalah pakaiannya.

Legenda Tuk Bima Lukar

Pancuran air Tuk Bima Lukar
Pancuran air Tuk Bima Lukar

Dari apa yang bisa saya temukan di internet, penamaan Tuk Bima Lukar erat akan dua hal. Pertama, legenda terbentuknya Sungai Serayu. Kedua, keadaan yang berkembang di Dataran Dieng bahwa situs-situs dinamai berdasarkan tokoh pewayangan, atau benda-benda yang berkaitan dengan pedalangan.

Menariknya, meskipun mengambil tokoh Pandawa, kehadiran Tuk Bima Lukar sulit untuk disejajarkan dengan narasi utama Mahabharata. Hal ini menurut saya membuktikan bahwa Mahabharata adalah sebuah epos yang cair dalam sebuah bingkai, alih-alih sebuah legenda dengan pakem tetap nan pasti.

Mahabharata menyerap nilai-nilai lokal daerah setempat (termasuk tempat-tempat seperti mata air atau gunung) untuk mengembangkan narasi-narasi sampingan yang, pada gilirannya, berevolusi menjadi fragmen-fragmen tersendiri dalam bingkai narasi utama: intrik Hastinapura dan perang Bharatayudha. Di sini, yang diserap adalah Sungai Serayu. Di tempat lain, yang diserap adalah gunung, semisal saja Gunung Arjuna.

Aliran air di kolam
Aliran air di kolam

Ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bukan pula disebabkan oleh jauhnya Indonesia dengan India, sehingga kekosongan kontak antara mereka membuat pujangga-pujangga Indonesia mengasah pisau kreatifnya dengan mengaitkan Mahabharata dengan apa yang dekat dengan mereka.

Di India sendiri pun fenomena seperti ini terjadi. Kavita A. Sharma dalam Perempuan-Perempuan Mahabharata menunjukkan secara tidak langsung bahwa beberapa tokoh wanita adalah besutan pujangga-pujangga lokal yang memasukkan muatan daerah masing-masing. Di beberapa tempat, gejala ini demikian kental sehingga tokoh lokal bahkan memiliki posisi yang lebih prominen ketimbang tokoh utamanya.

Memang begitulah hakikat cerita yang disebar dari mulut ke mulut. Setiap penutur meninggalkan bumbu, agar kisah yang sedang diceritakan diingat oleh siapa saja yang mendengarnya. Berturut-turut, sambung menyambung, cerita yang ada setelah diwariskan pada sekian ribu generasi jelas akan berbeda dengan apa yang menjadi versi awalnya.

Legenda terjadinya Sungai Serayu banyak diposting di dunia maya, dengan berbagai variasi. Kebanyakan cerita diawali dengan tantangan Rsi Drona kepada kubu Pandawa dan Kurawa untuk membuat sungai karena sang begawan kehausan. Para Pandawa menugasi Bima, yang fisiknya terkenal kuatnya, untuk membuat sungai. Begitu kuatnya adik Yudhistira ini sehingga satu sumber mengatakan bahwa ia menggunakan alat vitalnya untuk membuat sungai, dan mengisinya dengan air seninya sendiri. Sungai itu kemudian dinamai Serayu karena ada seorang perempuan cantik mandi di sungai ini. Ia dipergoki Bima dan ditegurnya, “Sira ayu,” yang berarti “Kamu cantik.”

Konon dari sanalah Sungai Serayu mendapatkan namanya.

Tuk Bima Lukar: Pancuran Abadi

Ketika saya datang siang itu, Tuk Bima Lukar bisa saya katakan sangat bersih. Tidak ada sampah plastik atau kemasan-kemasan sampo dan sabun sejauh mata memandang. Mungkin ini pengaruh dari pemugaran yang baru saja kelar. Lantai petirtaan tampak baru. Dinding petirtaan pun begitu.

Sedikit nuansa Jawa Kuno yang ada di sini timbul dari kepala pancuran yang berbentuk jaladwara dan terbuat dari batu andesit. Sayangnya, bagian mulut sang makhluk mitologis sudah disusupi dengan pipa paralon sehingga kesan kunonya agak terganggu. Ada dua pancuran dengan air mengalir deras. Ini bulan Januari, jadi hujan sering turun. Pastilah mata air yang ada di bawah tanah mendapat pasokan yang melimpah.

Dilihat dari tempat air memancar, Tuk Bima Lukar terbagi dalam beberapa teras. Teras pertama, yang paling atas, adalah tempat sembahyang, ditandai dengan bekas-bekas bunga dan dupa. Di sini, orang-orang yang sembahyang menghadap suatu tumpukan batu yang membentuk altar rendah. Beberapa batu lama menjadi penyusunnya—batu-batu yang agaknya menjadi penyusun dinding bangunan kuno. Dari bunyinya, besar kemungkinan sumber air ada di bawah altar ini. Kondisi yang sama terjadi di Petirtaan Jolotundo, Pasuruan.

Altar tempat sembahyang di teras pertama
Altar tempat sembahyang di teras pertama

Dari sumber air, aliran menembus dinding dan ditampung di teras kedua—sejenis kolam penampungan. Kondisi serupa ada di sumber air suci pada Kompleks Candi Gedong Songo. Setelah disimpan sejenak di situ, air mengalir melalui saluran pipa paralon yang menjulur pada bidang yang menjadi teras ketiga, sampai setelahnya bermuara pada mata pancuran jaladwara. Pipa paralon yang menjulur ditutupi semen dan digambari sisik-sisik seolah-olah badan naga.

Jaladwara pancuran air
Jaladwara pancuran air

Selain yang telah saya sebutkan di atas, agaknya tidak banyak lagi batu-batu lama yang tersisa di permukaan. Sebuah batu bulat bergaris-garis mirip puncak bangunan candi tergeletak begitu saja di dinding petirtaan. Agar tumbukan air dengan lantai tidak terlalu merusak, di bawah ada balok batu sebagai penahan. Selain itu tidak ada lagi.

Batu candi yang tergeletak
Batu candi yang tergeletak

Saya tidak terlalu heran menemukan ada sumber air suci di tempat ini. Agama Hindu yang menjadi napas peninggalan di Dieng memang sangat berkaitan erat dengan air suci. Air suci dalam Hindu disebut tirtha amertha, air kehidupan. Begitu erat keterkaitan air dan agama Hindu sehingga di seluruh ritualnya air selalu mendapat tempat paling utama. Ibarat kata, sembahyang tidak absah tanpa air tirtha.

Jelaslah kiranya mengapa sumber-sumber air sungguh penting bagi umat Hindu. Air adalah sumber kehidupan, dan sumber itu dikeramatkan agar terjaga kelestariannya. Air adalah sumber kesucian, oleh karenanya tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak baik di tempat-tempat suci seperti ini.

Batu candi di dekat altar
Batu candi di dekat altar

Dan saya rasakan sendiri, air yang sumbernya langsung dari perut bumi memang segar dan sejuk betul. Ia dapat diminum langsung, dapat pula dipakai mencuci muka, tangan dan kaki. Saya jarang-jarang menemukan sumber air sejuk langsung di kota besar, sehingga kesempatan ini tidak boleh saya lewatkan.

Bisa menemukan sumber air suci sebelum berjumpa dengan kompleks candi utama seolah-olah merupakan prasyarat utama sebelum menghadapi hidangan pokok. Maksud saya, posisi Tuk Bima Lukar yang ada di jalan masuk menuju Dieng seolah-olah membuatnya harus didatangi para peziarah, baik di masa lalu maupun kini, sebelum berpetualang di kawasan para dewa. Ah, bisa jadi ini hanya kebetulan.

Tapi bisa jadi pula, demikianlah nyatanya: Tuk Bima Lukar mungkin saja adalah titik awal yang harus didatangi seseorang sebelum berziarah di Dieng…

12 thoughts on “Tuk Bima Lukar: Hulu Sungai Besar nan Bersahaja

Add yours

  1. jadi inget pemandian di candi ngempon, gedongsongo dan terutama di tirta empul… sungguh meskipun saya bukan pemeluk Hindu pengen banget kesana, seger kayaknya apalagi mandi di air yang secara spiritual didoakan hehehe…

    1. Selain itu memang sumbernya adalah mata air murni yang kaya akan mineral-mineral alam sehingga begitu kena badan akan nikmat sekali Bang, hehehe. Sumber mata air alami memang selalu bikin kangen. Curug-curug atau telaga-telaga juga boleh. Dieng kaya akan sumber-sumber semacam itu kan, hehehe.

  2. Betul, bikin rileks ya… btw, kasian sekali kalo sungainya benar dari air nya Bima 🙁 untung cuma mitos yak… Gara brp hari di dieng kemaren

    1. Itu cuma mitos, Bang, saya sendiri kurang percaya. Nama Serayu pun susah saya terima asalnya dari situ. Saya lebih cenderung mengasosiasikan Serayu dengan sungai bernama sama di India, yang mengalir di tepi Ayodhya, kerajaan tempat Rama dilahirkan. Lebih nyambung dengan setting tempat yang banyak nama wayangnya, meski dari epos yang berbeda. Hehe.

  3. Betul, zaman belum ada medsos dan sekolah, orang belajar dr alam, makanya dibuat mitos kayak kalo disini jahat sm ibu entar jadi batu kayak malin kundang

    Wow, sarya barusan gugling dan nemu sungai Cisarayu dan Sarayu. Saya baru tau kalo Serayu ada kemungkinan berasal dari Sarayu di India. Saya taunya cuma bbrp daerah di Indonesia yg bernama Dieng, Parahyangan, Pariangan. Di Kerinci juga ada desa namanya Hiang 🙂

    1. Iya Bang, jadi salah satu upaya agar alam tetap lestari…

      Awalan Ci- setahu saya juga berarti “sungai” atau “air”, Bang.

  4. belum sempat mampir ke tuk bimalukar ini, sayang sekali padahal beberapa kali ke Dieng tapi selalu terlewatkan, dulu setahuku belum dipugar seperti sekarang ini cuma emang letaknya di pinggir jalan kalau nggak salah sudah masuk wilayah wonosobo

  5. Langsung googling dong saiaaa hehehe …, pengin tau lokasi Tuk Bima Lukar ini tepatmya berada dimana 🙂

    Atau, mas Garo bersedia menyertakan info lokasinya ?.

    Sebagai pecinta wisata sejarah, aku suka dengan lokasi seperyi ini ..

    1. Oh iya, saya alpa mencantumkan lokasinya. Mohon maaf, hehe.
      TBL cukup mudah ditemukan. Kalau ke Dieng dari Wonosobo pasti melewatinya. Tepatnya di tanjakan terakhir sebelum pertigaan Desa Dieng, sebelah kanan jalan. Huruf-huruf besarnya nanti akan menyambut. Selamat berkunjung.

Tinggalkan Balasan ke garo Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑